Islam Times 12 Aug 2020 092020000000Wed, 12 Aug 2020 09:33:59 -0400 9:33 https://www.islamtimes.org/id/news/879746/kelompok-lobi-israel-menghapus-tweet-untuk-memeras-libanon -------------------------------------------------- Title : Kelompok Lobi Israel Menghapus Tweet untuk Memeras Libanon -------------------------------------------------- Islam Times - Pada hari Minggu, pemerintah-pemerintah dunia menjanjikan bantuan hampir 300 juta dolar ke Libanon, menyusul ledakan dahsyat pekan lalu di pelabuhan Beirut. Ketika para pemimpin berkumpul untuk konferensi janji virtual yang diselenggarakan oleh Prancis, satu kelompok lobi Israel yang kuat menjelaskan agendanya. Text : Donor internasional sedang mengumpulkan paket bantuan untuk Libanon. Bantuan harus dikondisikan pada pelucutan senjata Hizbullah yang telah lama dijanjikan dan telah lama dihindari, cuit Komite Yahudi Amerika (AJC). "Kecuali peran ganas dari proksi teror Iran ditangani, tidak akan pernah ada perubahan yang berarti bagi rakyat Libanon." Tapi tweet tersebut kemudian dihapus AJC pada hari Senin. Menganlisa fenomena ini, Ali Abunimah, reporter Electronic Intifada dalam laporannya mengatakan, menggunakan kesehatan dasar dan kebutuhan kemanusiaan warga sipil sebagai senjata melawan mereka meski melanggar hukum internasional adalah kebijakan Israel yang sudah mapan, di Gaza apalagi. Sama seperti Israel berharap bahwa merampas kebutuhan dan hak-hak dasar orang-orang Palestina di Gaza akan mendorong mereka untuk menyerah, perhitungan yang sama tidak diragukan lagi berlaku dalam pendekatan Israel terhadap Libanon. Harus diingat bahwa Hizbullah didirikan pada awal 1980-an sebagai tanggapan atas invasi dan pendudukan Israel atas Libanon dan pengepungan Beirut. Sebagai kekuatan perlawanan yang tangguh, Hizbullah mampu mengusir pasukan pendudukan Israel dan milisi kolaborator mereka dari Libanon pada tahun 2000 dan mempermalukan Israel lagi ketika mereka menyerang Libanon pada tahun 2006. Gagal melawan pejuang Hizbullah yang terlatih dengan baik, Israel malah melakukan pemboman tanpa pandang bulu terhadap warga sipil. Strategi itu sampai kini tampaknya tidak berubah. Pada 6 Agustus, pemimpin redaksi The Jerusalem Post Yaakov Katz menguraikan apa yang akan dilakukan Israel jika perang skala penuh lainnya meletus, Ini berarti mengebom bandara, lapangan sepak bola, pelabuhan, rumah pribadi, gedung perkantoran, sekolah dan banyak lagi. Dalam kalimat yang lebih mengerikan, Katz menambahkan, "Kendala yang biasanya kami lihat dalam operasi Gaza harus dicabut." Mengingat pemusnahan massal Israel yang berulang di Gaza, sulit untuk mengetahui "kendala" apa yang dia maksud. Israel tahu bahwa meski dapat menimbulkan penderitaan tak terhitung, ia akan membayar harga yang sangat mahal untuk serangan semacam itu. Jadi Israel, melalui lobinya, telah mencoba untuk mencapai secara politik apa yang tidak dapat dilakukannya di medan perang: mengalahkan Hizbullah. Mengingat banyaknya serangan yang dilancarkan Israel terhadap Libanon sejak 1950-an (termasuk serangan berulang di bandara Beirut dan banyaknya bom mobil yang menjadi tanggung jawabnya sejak 1970-an), tidak heran jika banyak orang di kawasan dan di Libanon curiga Israel telah membantu bencana minggu lalu. Tapi, meski Israel tidak berperan apa pun dalam meledakkan stok besar amonium nitrat yang disimpan di pelabuhan Beirut, ledakan tersebut memberi peluang bahwa Israel dan sekutunya tidak ingin menyia-nyiakannya. Pertanyaan bagi Israel sekarang adalah dapatkah bencana yang tidak menguntungkan ini digunakan untuk mengubah keseimbangan kekuatan di Libanon, dan mendorong/menginspirasi orang-orang Libanon untuk melawan Hizbullah dan menyingkirkannya dari kekuasaan, kata Katz dari The Jerusalem Post. Tahap pertama, tampaknya, adalah kampanye rumor tak berdasar dan kebohongan langsung bahwa Hizbullah bertanggung jawab atas ledakan pelabuhan. Tweet ini, misalnya, berasal dari organisasi propaganda yang terkait dengan kementerian urusan strategis Israel: Akun 4ILorg menulis: "Menyusul tragedi #Beirut, #Israel resmi menawarkan bantuan kemanusiaan ke Lebanon. Ini terjadi meskipun ada bukti bahwa ledakan itu berasal dari gudang amunisi Hizbullah." Akun sama sekali tidak menyertakan bukti untuk klaimnya bahwa "ledakan itu berasal dari gudang amunisi Hizbullah." Akun-akum media sosial Israel dan pro-Israel juga ikut menyebarkan propaganda serupa: Akun @DavidHaris AJC misalnya, menulis: "Pres Perancis. @EmmanuelMacron memiliki seutas tweet tentang #Libanon & masa depannya. Secara mencolok, dia tidak pernah menyebutkan peran beracun # Hizbullah. Kapan Perancis akhirnya akan mengakui bahwa kelompok teror bersenjata berat yang didanai oleh Iran & negara-dalam-negara menambah masa depan yang suram untuk Libanon?" Yang pasti, Israel memiliki sekutu di Libanon dan di kawasan: Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sama-sama berada di pihak Israel. Dan negara-negara Eropa - di bawah tekanan Israel dan Amerika - berusaha membuatnya ilegal, bahkan untuk mendukung gagasan bahwa warga Libanon berhak untuk menolak invasi dan pendudukan oleh Israel. Ketika Jerman baru-baru ini melarang apa yang diklaimnya sebagai aktivitas Hizbullah di Jerman, Kementerian Dalam Negeri Jerman membenarkan hal ini dengan menyatakan bahwa kelompok Hizbullah menentang "konsep pemahaman internasional." Hizbullah secara terbuka menyerukan penghapusan kasar terhadap Negara Israel dan mempertanyakan hak keberadaan Negara Israel, kata Kementerian tersebut. Dengan kata lain, tidak setuju bahwa Israel memiliki "hak" untuk menginvasi dan menduduki negara Anda kini merupakan sebuah kejahatan pemikiran di Jerman. Kampanye Israel untuk mendorong lebih banyak penganiayaan politik terhadap mereka yang mempertanyakan "hak" mereka untuk menyerang, menduduki, menjajah, dan membunuh sesuka hati akan terus berlanjut. Dan tidak diragukan lagi bahwa negara-negara Eropa, khususnya Perancis, akan menjadi mitra dalam upaya penjajahan kembali Libanon. Lalu mengapa Komite Yahudi Amerika menghapus tweetnya? Menurut tweet yang dikeluarkan pada hari Senin, AJC mengklaim bahwa tweet yang dihapus tidak memenuhi "standar nuansa" kelompok lobi Israel. "Kemarin kami mengeluarkan, lalu menghapus, tweet yang tidak memenuhi standar nuansa AJC. Untuk memperjelas, kami percaya komunitas internasional harus mengirimkan bantuan kemanusiaan yang mendesak ke Lebanon. Secara terpisah, pembicaraan tentang masa depan negara harus membahas peran destruktif dari wakil Iran, Hizbullah." Namun, sepertinya tweet itu terlalu jujur ​​tentang agenda Israel. Itu tidak selaras dengan pesan propaganda saat ini bahwa Israel - yang telah membunuh dan melukai puluhan ribu orang dalam berbagai upaya untuk menghancurkan Libanon - sekarang HANYA ingin membantu.[IT/AR]