0
Thursday 24 May 2018 - 07:47
Hari al-Quds Internasional

Yaum al-Quds: Kiblat Perlawanan Umat untuk Pembebasan dan Kemanusiaan

Story Code : 726955
Komite Solidaritas Paletina dan Yaman (KOSPY) akan menggadakan demo Yaumul al-Quds
Komite Solidaritas Paletina dan Yaman (KOSPY) akan menggadakan demo Yaumul al-Quds
Kota al-Quds atau Yerusalem  merupakan salah satu kota tertua dan lama di dunia, terletak di sebuah dataran tinggi di Pegunungan Yudea antara Laut Tengah dan Laut Mati. Kota ini dianggap suci dalam tiga agama Abrahamik, Yudais (Yahudi), Kristen, dan Islam.

Sepanjang sejarah, al-Quds pernah dihancurkan setidaknya dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan direbut serta direbut-kembali selama 44 kali. Bagian tertua kota ini menjadi tempat permukiman pada milenium ke-4 SM dan pada tahun 1538 dibangunlah tembok di sekitar al-Quds oleh pemerintahan Suleiman I, salah satu kesultanan Turki Utsmaniyah. Saat ini tembok tersebut mengelilingi Kota Lama, yang secara tradisi terbagi menjadi empat bagian sejak awal abad ke-19 yang dikenal sebagai kawasan Armenia, Kristen, Yahudi, dan Muslim. Kota ini menjadi sebuah situs warisan dunia pada tahun 1981, dan termasuk dalam daftar situs warisan dunia yang dalam kondisi bahaya. Untuk saat ini, al-Quds modern telah berkembang jauh melampaui batas-batas dalam pemerintahan kesultanan Suleiman.

Dalam pandangan Islam, kota al-Quds merupakan jantung gerakan Islam. Disana berdiri sebuah masjid al-Aqsa yang dalam versi Islam dianggap sebagai kiblat pertama umat Islam dan salah satu tempat suci umat Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di kawasan Bait al-Maqdis, kota al-Quds Timur. Di depan bangunan masjid yang masih di kompleks Bait al-Maqdis, terdapat bangunan kubah warna hijau yang dikenal sebagai Qubat al-Sakhra atau Dome of Rock. Bangunan kubah ini untuk melindungi batu hitam Sakhra al-Muqaddasah yang menjadi pijakan Rasulullah saat menuju Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra dan Miraj.

Berdasarkan nilai sejarah, Masjid al-Aqsa menjadi tempat suci ketiga umat Islam setelah Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Masjid al-Aqsa juga pernah menjadi kiblat pertama umat Islam, sebelum datang perintah dari Allah Swt melalui wahyu-Nya kepada Rasulullah Saw untuk mengubah kiblatnya ke Baitullah (Kabah) di Masjid al-Haram.

Berdasarkan sejarah, umat Islam mengambil kepemilikan Masjid al-Aqsa dan Palestina pada tahun kelima belas Hijriah, dan tetap -,kecuali untuk periode singkat ketika Tentara Salib mendudukinya antara tahun 1099 dan 1187 SM,- di bawah kendali umat Islam sampai datang kolonialis Inggris di jantung Islam pada tahun 1918.

Dengan intrik politik, dan dalam suasana perselisihan dengan para kepala suku Arab, Inggris merancang kekalahan kesultanan Ustmaniyah, yang menyebabkan perpecahan dan pengkotakan umat menjadi beberapa negara dan bangsa kecil dan lemah. Ketika kolonialis Inggris akhirnya pergi, Palestina kemudian diserahkan kepada kolonialis Zionis yang didatangkan dari Eropa.
Selama pemerintahan Islam, di kota al-Quds, baik warga Yahudi dan Kristen menikmati kebebasan beragama dengan lengkap, termasuk tempat ibadah mereka dihormati dan dilindungi. Ketika Tentara Salib datang, sejak itu mereka tidak mengizinkan warga Muslim atau Yahudi untuk mendapatkan kebebasan semacam itu. Warga Yahudi, bahkan tidak diizinkan untuk memasuki al-Quds. Sejak pendudukan zionis Palestina dan al-Quds, penganiayaan agama dan penodaan terhadap tempat-tempat ibadah menjadi norma, adab dan budaya hingga sekarang ini. Baik umat Islam maupun Kristen menderita kebrutalan dan penganiayaan para penganut Zionisme ini.

Sekarang, penting bagi kita, untuk menengok kembali bagaimana umat Islam berakhir dalam kondisi yang menyedihkan ini. Mungkin pertama-tama yang harus dilakukan adalah mengungkap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan Zionis.

Pendudukan Zionis atas Palestina didahului bukan hanya melalui strategi pecah belah dan pengkotakan terhadap umat, tetapi juga dengan memberikan suntikan toxin nasionalisme Arab, sebuah konsep yang benar-benar asing bagi konsep al-Quran mengenai konsep umat dan agama ke dalam tubuh politik Islam.

Itu adalah ideologi nasionalisme yang menyimpang-, nasionalisme Arab tepatnya,- yang tujuannya adalah memecah belah umat Islam ketika mereka dihadapkan dengan nasionalisme Zionis dalam konflik atas kendali Palestina. Konflik ini akhirnya tidak bisa dihindari, nasionalisme Arab sangat asing bagi etos umat Islam. Umat Islam hanya dapat dimobilisasi berdasarkan Islam, bukan atas dasar ideologi asing yang diimpor dari Barat. Nasionalisme Zionis, di sisi lain, hanyalah kedok yang nyaman untuk mempertahankan kontrol imperial Barat atas bagian penting dari jantung Islam. Karena itu mengapa Zionisme terus menikmati dukungan penuh dari kekuatan kolonial.

Kekuatan Barat selalu mengejar strategi jangka panjang, sebagai modusnya, mereka pertama kali mengalahkan Kesultanan Ustmaniyah, dan kemudian menanamkan agen-agen mereka di dalam tubuh umat Islam yang terfragmentasi di Timur Tengah yang berakhir dengan para penguasa seperti Abdul Aziz bin Saud di jazirah Arab (Saudi Arabia), Abdullah bin Husain di Yordania dan, Faisal bin Husain pertama di Suriah dan kemudian di Irak.

Para pengkhianat ini dibesarkan oleh kekuatan kolonialis, dan karena itu mereka tetap setia kepada penjajah, disokong penuh untuk membantu menghancurkan umat hingga hari ini. Ketika kediktatoran ini diciptakan, tujuan utama kolonialisme adalah -,sebagaimana yang berjalan sampai hari ini,- untuk melindungi "negara" palsu Zionis Israel yang didirikan di Palestina. David Ben Gurion, Perdana Menteri pertama Israel, secara terbuka mengakui bahwa rezim Arab adalah garis pertahanan pertama Israel. Rezim-rezim ini terus menerus menekan gerakan-gerakan Islam. Dan mereka menyuguhkan langkah strategis bahwa satu-satunya kendaraan yang mampu memobilisasi dan mendorong umat melawan penjajah asing adalah nasionalisme Arab dengan dalih menjaga Islam di kawasan. Sikap subversif Barat ini merupakan kebijakan sangat mendasar bagi semua rezim-rezim Arab.

Dalam situasi yang suram, kemudian muncul Revolusi Islam yang berhasil di Iran pada tahun 1979. Sejak itu, Imam Khomeini dianggap sebagai pemimpin dan Bapak Revolusi Islam pertama yang muncul di tengah umat Islam pada periode kolonial. Imam Khomeini mengambil sejumlah langkah-langkah strategis dan penting yang jangkauannya sangat luas untuk masa depan umat. Implikasi dari strategi itu, kaum Zionis Israel yang pernah mendirikan kedutaan di Tehran selama rezim Shah, dan memiliki hubungan erat dengan institusi represif Shah, terusir dari Iran. Setelah itu, negara-negara Islam berbondong-bondong ikut memutuskan semua hubungan diplomatik dengan "negara" Zionis, dan menyerahkan semua properti yang sebelumnya ditempati oleh kaum zionis kepada Palestina.
Imam Khomeini kemudian menyatakan bahwa hanya dengan cara mobilisasi massa umat yang mampu membebaskan kiblat pertama Islam (al-Quds) dari cengkeraman Zionisme. Pada posisi ini, Imam Khomeini kemudian mentasbihkan bahwa hari Jumat terakhir bulan Ramadan ditandai sebagai Yaum al-Quds atau Hari al-Quds. Dari sisi ini, umat Islam di seluruh dunia kemudian tergugah mata hatinya, dan menegaskan kembali tekad dan komitmen mereka untuk mengakhiri pendudukan al-Quds dan Palestina dari cengkeraman para penjajah Zionis dukungan rezim arab dan kolonialisme Barat.

Dalam menerapkan strategi itu, Imam Khomeini tidak pernah meminta kepada orang Palestina untuk bangkit atas dasar nasionalisme Arab atau nasionalisme Palestina, Imam juga tidak menyerukan kepada seluruh rezim di dunia Islam untuk mengumpulkan sumber dayanya untuk membebaskan al-Quds. Imam Khomeini punya logika sendiri, dan menemukan rumusan perjuangan umat Islam harus berasal dari akar Islam itu sendiri. Menurut Imam, bulan Ramadan yang juga dianggap sebagai bulan Nuzulul Quran, adalah bulan penentangan umat terhadap penjajah Zionis dan bulan pembebasan al-Quds.

Secara filosofis, bulan Ramadan merupakan bulan perjuangan, sebab di bulan ini kaum muslimin pernah berjuang dalam pertempuran pertama mereka, yakni dalam perang Badr yang puncaknya adalah kemenangan gemilang umat Islam. Selain itu, di bulan Ramadhan, kota suci Makkah berhasil dibebaskan dari cengkeraman kaum musrikin Quraish. Karena itu sangat tepat ketika Imam Khomeini menempatkan dan mentasbihkan simbol perjuangan untuk pembebasan Palestina dan al-Quds di bulan Ramadhan ini.

Sejak Yaum al-Quds pertama kali diproklamasikan, umat Islam di seluruh dunia terus memperhatikan geliat gerakan Yaum al-Quds. Semua mata dunia menaruh perhatian penuh terhadap penistaan ​​vandalisme zionis dan penodaan kiblat pertama Islam, serta penjajahan terhadap Palestina dan penindasan terhadap rakyat Palestina.

Dus, dengan mencermati gerakan Yaum al-Quds ini, umat Islam sekarang ini tidak hanya sudah memahami urgensitas dirinya, tapi juga memahami kewajiban politiknya dan pengakuan terhadap kewajiban agamanya.

Perlindungan terhadap tempat-tempat suci adalah kewajiban yang berlaku bagi semua orang. Selama al-Quds yang suci, tetap dalam cengkeraman Zionisme, maka tugas ini tetap menjadi kewajiban, dan memobilisasi tidak saja umat Islam untuk menuju tujuan ini selain kewajiban agama juga kewajiban kemanusiaan universal. Karena itu, Yaum al-Quds adalah simbol gerakan dan kiblat perlawanan umat Islam dan dunia untuk pembebasan dan kemanusiaan. [IT]
 
Artikel Terkait
Comment