0
Monday 24 September 2018 - 07:35

Kelompok Teroris Mana yang Menyerang Parade Militer Iran?

Story Code : 751750
Serangan teroris di Ahvas
Serangan teroris di Ahvas
Empat teroris dukungan asing menyerang parade militer di provinsi barat Ahvaz, Iran Selatan, pada Sabtu, 22/09/18, menewaskan sedikitnya 29 orang di antara mereka adalah para wanita dan anak-anak, serta melukai 53 orang lainnya. Parade militer pada Sabtu itu digelar untuk memperingati ulang tahun ke-30 agresi gagal Saddam untuk menganeksisasi Republik Islam Iran pada 22 September 1980.

Diktator Irak itu mendapat dukungan penuh dari negara-negara Arab, utamanya Saudi Arabia dan Barat, tetapi upaya untuk menghancurkan Iran itu berhasil dikalahkan melalui perlawanan gagah dan berani rakyat Iran.

Laporan media Iran menyebut, empat teroris menyamar dengan mengenakan seragam militer, bersembunyi di sebuah taman terdekat dan menembakkan senjata otomatis tepat di tengah parade militer. Salah satu komandan IRGC menyebut, kelompok teroris al-Ahvaziya melakukan serangan, sementara kelompok teroris Takfiri ISIS juga mengaku bertanggung jawab, meski tidak menunjukkan bukti.

Menteri Luar Negeri Iran Javid Zarif dalam sebuah tweetnya, tidak ragu lagi menyebut siapa yang harus disalahkan atas serangan Sabtu itu.

"Teroris yang direkrut, dilatih, dipersenjatai, dan dibayar oleh rezim asing telah menyerang Ahvaz. Iran memegang sponsor teror regional dan tuan AS mereka, bertanggung jawab atas serangan tersebut. Iran akan merespon dengan cepat dan tegas dalam membela kehidupan Iran." tulis Zarif dalam tweet ketika berita itu pecah.

Sementara CNN, pada Sabtu, 09/18, dalam sebuah analisa yang ditulis oleh Nic Robertson terkait serangan teroris di Ahvas dengan judul, "Who attacked Iran's military parade?".

Analisa CNN itu sebagai tanggapan atas pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif yang menyebut AS sebagai dalang serangan mematikan pada Sabtu.

Nic Robertson menulis, pengaruh dan ancaman Iran yang berkembang di wilayah tersebut sebagai alasan dibalik serangan itu, tanpa menyebut bahwa serangan itu adalah TERORIS. Nic Robertson juga menuduh Iran ikut campur di negara-negara wilayah, khususnya di Irak, Suriah dan Libanon. "Teokrasi Syiah semakin mendarah daging di lembaga-lembaga Irak, dan kian mengakar di Suriah. Dan yang paling mengkhawatirkan bagi para pemimpin Israel adalah proksi terbesar Iran, Hizbollah Libanon yang memperoleh kekuatan signifikan di wilayah perbatasan Israel".

Diakhir analisa, Nic mengatakan, jika Republik Islam Iran tidak bisa menunjukkan dalangnya, maka serangan Sabtu di Ahvaz itu tidak akan menjadi akhir dari cerita. Sebuah pesan jelas dari AS, bahwa serangan-serangan serupa akan terjadi di Iran dimasa-masa mendatang.

Analisa itu juga cukup terang mengungkap bagaimana sikap media Barat ketika menggambarkan serangan teroris ini yang telah membunuh dan melukai puluhan warga sipil.

Baik media Barat dan Arab, serempak untuk tidak menyebut serangan Sabtu di Ahvas sebagai aksi serangan teroris. Mereka hanya menggambarkannya sebagai serangan yang dilakukan oleh kelompok atau orang bersenjata. Seseorang sudah tentu dapat membayangkan bagaimana hebohnya berita utama  dan analisa media-media Barat jika serangan serupa atau bahkan jauh lebih kecil dari ini, terjadi di Barat.

Siapa Kelompok Teroris al-Ahvaziya?

Ada sejumlah partai politik Arab Iran yang aktif dan berbasis di luar negeri, tetapi tidak ada satu partai politik yang dikenal untuk mewakili satu kelompok dari masing-masing etnis lain di Khuzestan, Iran.

Ideologi-ideologi partai-partai Arab Iran ini bervariasi, meskipun sebagian besar adalah sekuler dalam pandangan politik. Ideologi, taktik, loyalitas kesukuan dan ambisi pribadi masing-masing suku, mencegah partai-partai ini membentuk front persatuan bersama. Sebagian mendukung perlawanan bersenjata, sementara yang lain percaya pada aksi tanpa kekerasan. Sebagian besar lagi merujuk ke seluruh provinsi Khuzestan sebagai al-Ahwaz (mengacu pada wilayah di bagian barat daya Iran) atau Arabistan di sepanjang pantai Teluk Persia ke Selat Hormuz.

Partai-partai politik Arab ini dibagi menjadi dua kubu, partai yang mencari dan ingin negara terpisah, dan partai yang mencari otonomi daerah di dalam Iran federal.

Yang paling terkenal dari berbagai partai-partai itu adalah al-Ahwaz Arab Peoples Democratic Popular Front (AADPF), dan Ahwaz Arab Renaissance Party (AARP). Keduanya mendapat dukungan penuh dari pemerintah Inggris, AS dan Saudi Arabia untuk melakukan berbagai serangan bom di Iran sejak Juni 2005.

Partai-partai Ahwaz Berbasis Diluar Negeri

- Al-Ahwaz Arab Peoples Democratic Popular Front (AADPF) saat ini berbasis di London, dipimpin oleh Mahmud Ahmad al-Ahwazi, aka Abu Bashar. Kelompok ini mengklaim bahwa wilayah al-Ahwaz diduduki oleh Iran pada tahun 1925. AADPF juga mengklaim, mereka telah memimpin apa yang mereka sebut sebagai "intifada" di Khuzestan.

- Ahwaz Arab Renaissance Party, adalah kelompok separatis yang memfatwakan perlawanan bersenjata kepada pemerintah sah Iran. Kelompok ini awalnya didirikan pada 1990-an oleh pemerintah Suriah berbasis di Damaskus. Kemudian basis kepemimpinannya pindah ke Kanada, dan mendapatkan dukungan penuh dari Kanada. Pada bulan April 2005, mereka mengklaim telah meledakkan bom jalur pipa Ahwaz-Tehran dan pemboman Juni 2005 di Kota Ahwaz yang dipimpin oleh Sabah al-Musawi, seorang warga Kanada.

- Democratic Solidarity Party of al-Ahwaz (DSPA), berbasis di AS dan Inggris. Kelompok ini mengklaim sebagai perwakilan dari seluruh partai-partai Arab Iran di luar negeri. Pada Maret 2005 di London, Kongres Nasional untuk Federal Iran (CNFI) menyatukan DSPA dengan berbagai partai gurem lain diantaranya, Front Bersatu Baluchistan, Gerakan Demokrasi Federal Azerbaijan, Partai Demokratik Kurdistan Iran, Partai Rakyat Balochistan, Organisasi untuk Pertahanan Hak-hak Rakyat Turkmen dan Partai Komalah, sebuah partai oposisi Kurdi bersenjata.

- Ahwaz Liberation Organisation (ALO) yang berbasis di Maastricht di Belanda, dibentuk dari sisa-sisa tiga kelompok yang didukung Irak pada zaman Saddam Husain,- Front Revolusioner Demokratik untuk Pembebasan Arabistan (DRFLA), Front Rakyat untuk Pembebasan Arabistan (PFLA) dan Front Arab untuk Pembebasan al-Ahwaz (AFLA). Tiga kelompok ini adalah kelompok pan-Arab sekuler yang mencari kemerdekaan dari Iran. DRFLA adalah yang paling terkenal, yang disponsori oleh Saudi Arabia dan negara-negara Arab.

- Pemimpin ALO, Faleh Abdallah al-Mansouri, hidup di Belanda sejak tahun 1989, tak lama setelah berakhirnya Perang Iran-Irak, dan mendapatkan kewarganegaraan Belanda. Dia pernah menyatakan dirinya sebagai presiden al-Ahwaz, yang menurutnya melampaui wilayah Khuzestan, termasuk sebagian besar pantai Iran.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan bahwa kejahatan teroris bayaran melakukan serangan Ahvas yang didukung oleh negara-negara Barat, Zionis dan Arab. Lembaga revolusioner itu mengumumkan pada Ahad, 25/09/18, dan menyebut, di bawah kebijakan dan langkah-langkah yang berlaku, IRGC mencoba yang terbaik untuk mempersiapkan kondisi dan sarana yang diperlukan untuk mengadili dan menghukum para penjahat di wilayah dan sekitarnya.

Sementara Imam Ali Khamenei dalam pesan bela sungkawa juga menyatakan, kesyahidan yang pahit dan disesalkan dari sekelompok orang yang kita cintai di Ahvaz di tangan teroris bayaran yang mengekspos kekejaman dan kedengkian musuh-musuh bangsa Iran.

Dalam pesan pada Ahad, itu Imam Ali Khameni menegaskan bahwa kejahatan teroris bayaran itu adalah perluasan dari plot negara-negara bawahan AS di wilayah yang telah menetapkan tujuan mereka sendiri untuk menciptakan ketidakamanan di negara.

Ditegaskannya, yang membuat mereka cemas adalah bahwa bangsa Iran akan terus melanjutkan jalannya yang membanggakan dan terhormat, seperti sebelumnya dan akan mengatasi semua permusuhan ini. [IT]

 
Artikel Terkait
Comment