0
Monday 4 March 2019 - 01:45

Jika Taliban Bisa Duduk Satu Meja dengan AS, Mengapa Menolak Sesama Afghanistan?

Story Code : 781175
Negosiasi antara delegasi Taliban dan para pejabat AS di Doha
Negosiasi antara delegasi Taliban dan para pejabat AS di Doha
Tim AS dipimpin oleh utusan khusus Zalmai Khalilzad, sementara delegasi Taliban dipimpin oleh kepala biro Qatar Sher Abbas Stanikzai. Wakil kepala Taliban Mullah Baradar juga berpartisipasi dalam perundingan.

Kedua belah pihak sebelumnya telah mengadakan beberapa putaran negosiasi di Qatar, UEA dan Pakistan dalam beberapa bulan terakhir, namun hal itu tidak menghentikan kekerasan yang terjadi di seluruh negeri.

Menurut sumber informasi, banyak poin ketidaksepakatan antara kedua belah pihak pada tahap ini, terutama mengenai masalah penarikan lengkap pasukan asing dari negara yang dilanda perang itu.

Seorang anggota senior kelompok itu mengatakan, negosiasi yang sedang berlangsung akan menyebabkan penarikan semua pasukan asing dari Afghanistan, yang memungkinkan rakyat negara itu untuk bernegosiasi secara damai mengakhiri pertikaian selama bertahun-tahun.

Setelah dua hari musyawarah intens yang dimulai pada Selasa, kedua belah pihak beristirahat dua hari dan melanjutkan pembicaraan pada hari Sabtu. Jeda itu dimaksudkan untuk melakukan 'musyawarah internal' dan mencari pendapat mengenai kepemimpinan masing-masing, kata laporan itu.

Pada hari Selasa dan Rabu, sebuah sumber mengatakan, diskusi berkisar pada penarikan pasukan asing pimpinan AS dan penarikan itu akan dijamin oleh Taliban untuk mencegah pemberontak menggunakan tanah Afghanistan sebagai tempat serangan di dalam atau di luar negara itu.

"Ketika pendudukan (Amerika) berakhir, saya pikir kami akan melakukan konsultasi di seluruh negeri dengan para cendekiawan dan warga Afghanistan yang berpengaruh mengenai bentuk pemerintahan masa depan," kata juru bicara delegasi Taliban, Suhail Shaheen seperti dikutip oleh VOA.

Kedua belah pihak berharap akan menghasilkan 'rancangan perjanjian' menyusul kesimpulan pembicaraan.

Sementara mereka bisa duduk bersama dalam satu meja, pemerintahan yang dipimpin Ashraf Ghani di Kabul dikesampingkan oleh para pejabat AS dan Taliban, yang membuat marah presiden dan para pembantunya menjelang pemilihan umum di negara itu.

Ghani, yang berkali-kali menyerukan proses perdamaian di Afghanistan, dalam banyak kesempatan menyatakan ketidaksenangan "pembicaraan" yang menurutnya, pemerintahnya telah dirusak oleh mereka yang duduk satu meja membincang tentang masa depan negara itu.

Mitra koalisi dan kepala eksekutifnya pada hari Jumat mengatakan, Taliban seharusnya tidak "salah menghitung situasi", dan menyerukan "pembicaraan intra-Afghanistan untuk memastikan perdamaian abadi".

Bahkan banyak analis Afghanistan mempertanyakan kredibilitas perundingan antara Taliban dan AS ini.

"AS berbicara dengan Taliban? Sementara dengan orang-orang Afghanistan sendiri dan pemerintah menutup pintu. Hal ini bukanlah 'pembicaraan damai Afghanistan'", kata Rohullah Yakobi, seorang rekan dari Pusat Keamanan Manusia.

Sementara itu, menjelang putaran terakhir perundingan perdamaian Afghanistan di Doha, pelaku bom bunuh diri Taliban menyerang pangkalan militer di provinsi Helmand, Afghanistan selatan pada Jumat, menewaskan sedikitnya 35 tentara Afghanistan.

Kekerasan tak henti-hentinya di tengah pembicaraan damai yang kemudian menimbulkan banyak pertanyaan soal kebijaksanaan AS yang terang-terangan menutup mata terhadap pertumpahan darah di negara itu. Pembicaraan dan kekerasan, kata mereka, tidak bisa berjalan seiring.

"Apakah ini strategi AS yang baru? Mengabaikan serangan kurang ajar dan membunuh orang-orang. Dan dengan siapa mereka bernegosiasi untuk mengamankan kesepakatan," tanya seorang pengguna Twitter.

Masalah lain yang juga mendapatkan momentum adalah tidak dimasukkannya perempuan dalam 'pembicaraan damai' yang sedang berlangsung itu.

"Pembicaraan 'perdamaian' tidak ada artinya kecuali mereka tidak inklusif, mengecualikan perempuan tidak memiliki suara dalam negosiasi ini," kata aktivis hak-hak perempuan Samira Hamidi kepada Tehran Times.

"Perempuan di Afghanistan tidak bisa diterima begitu saja", katanya.

Menurut laporan media, putaran pembicaraan berikut antara kedua pihak kemungkinan akan diadakan di Islamabad, Pakistan. Pakistan adalah negara yang menikmati pengaruh kelompok pemberontak dan memainkan peran penting dalam memfasilitasi pembicaraan Doha. [TT]
Artikel Terkait
Comment