0
Wednesday 10 April 2019 - 04:38

Tuan Trump, Teroris Itu Ada di Jantung Komando Pusat Amerika Serikat

Story Code : 787828
CENTCOM
CENTCOM
Selain pertumpahan darah yang mengakibatkan tewasnya puluhan ribu pria, wanita, dan anak-anak, di Suriah, Irak, Yaman, Afghanistan dan Libya, CENTCOM juga menjadi penyebab utama arus migrasi jutaan orang ke negara-negara lain akibat perang yang diciptakan.

Sebagai catatan; Komando Pusat Amerika Serikat (USCENTCOM atau CENTCOM) adalah Unified Combatant Command dari Departemen Pertahanan AS. CENTCOM ini didirikan pada tahun 1983, mengambil alih tanggung jawab sebelumnya dari Satuan Tugas Penyebaran Cepat,-Rapid Deployment Joint Task Force,- (RDJTF). CENTCOM merupakan salah satu dari sembilan komando di jajaran militer Amerika Serikat yang saat ini memiliki wilayah tanggung jawab di wilayah geografis tertentu untuk merencanakan dan melakukan operasi sesuai dengan kebijakan yang telah disepakati.

Area Tanggung Jawab CENTCOM mencakup Timur Tengah, termasuk Mesir di Afrika, dan Asia Tengah di Afghanistan dan Irak. Komando tersebut merupakan kehadiran utama Amerika dalam banyak operasi militer, termasuk Perang Teluk Persia (Operation Desert Storm, 1991), Perang Afghanistan, dan Perang Irak (2003-2011). Pada 2015, pasukan CENTCOM dikerahkan di Afghanistan (Operation Freedom's Sentinel, bagian dari Resolute Support Mission NATO tahun 2015 – sekarang), Irak dan Suriah (Operation Inherent Resolve tahun 2014 – sekarang) untuk mendukung dan memberi nasihat dan membantu peran.

Langkah Iran yang menetapkan CENTCOM sebagai pusat teroris dirasa agak terlambat, yang jika saja hal itu dilakukan beberapa tahun sebelumnya, akan membuka peluang untuk menghilangkan atau meminimalisir wilayah dari kehadiran para penyusup bersenjata Amerika, dan menghindari teroris Takfiri didikan Amerika termasuk terorisme negara, Arab Saudi.

Namun demikian, langkah Iran itu merupakan langkah imbal balik yang hadir sebagai balasan deklarasi jahat rezim jahat Donald Trump dalam mencap organisasi Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) sebagai "teroris".

Pada Senin, 08/04/19 kemarin, Mike Pompeo, yang berperan sebagai Menteri Luar Negeri AS, mencoba memasang wajah berani ketika ia mengumumkan keputusan ganas Gedung Putih itu. Via video Youtube, nampak kontur wajah yang digabungkan dengan nada suaranya, benar-benar mengkhianati keraguan mendalam dalam dirinya. Pompeo faham, jantung konsekuensi mengerikan sedang menunggu AS atas langkah yang salah itu, yang oleh Pemimpin Revolusi Islam, Imam Ali Khamenei pada Selasa, 09/04/19, dengan penuh keyakinan, menyebut sebagai langkah bumerang yang buruk. Dan Pompeo hampir tidak bisa menyembunyikan ketakutan akan respon tegas Iran, ketika dia berusaha menenangkan dirinya dan mengatakan bahwa Iran harus berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan pembalasan.

Pompeo sedang mencoba menggertak dengan suara besar, dan meyakinkan dirinya dengan menduga bahwa militer yang dimiliki Amerika sangat kuat. Disaat seluruh dunia mengetahui bahwa AS adalah macan kertas, seperti yang telah dibuktikan oleh kekalahan demi kekalahan dan kehancuran demi kehancuran pasukan yang dilatih dan dipersenjatai, baik tentara resmi atau teroris non-negara di Suriah, Irak, Lebanon, Afghanistan, Yaman dan Afrika.

Adalah unit mobilisasi populer yang dilatih dan dipersenjatai dengan keimanan kepada Allah Swt oleh IRGC, di Suriah, di Irak, di Yaman dan di Afrika. Di Lebanon, gerakan anti-terorisme yang melegenda, Hizbullah berhasil menghancurkan kekuatan tak terkalahkan rezim ilegal Zionis dalam perang 33 hari pada tahun 2006. Perang 2006 yang dikenal sebagai "Ḥarb Tammuz" adalah kekalahan memalukan yang dirasakan Angkatan Pertahanan Israel (Israeli Defence Force atau IDF) oleh sekelompok kecil bersenjata di Lebanon, Hizbullah.

Jelas, nama IRGC membuat para teroris di Washington dan Tel Aviv menggigil ketakutan, dan sekali lagi AS salah perhitungan dengan berpikir bahwa label terorisme itu akan merusak peran IRGC yang selama ini telah terbukti mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan baik di dalam, maupun di luar negeri, termasuk kampanye melawan terorisme. IRGC berkoordinasi dengan pejuang-pejuang regional Irak, Suriah, Lebanon, Yaman, dan tempat-tempat lain di dunia untuk mengalahkan desain Amerika yang berusaha mendominasi wilayah-wilayah.

Kelirunya AS, langkah pelabelan kejam AS itu terjadi ketika para personil IRGC memperingati hari ulang tahun Sayyid as-Syuhada Imam Husain (AS), yang di Republik Islam Iran sebagai hari penghargaan atas kepahlawanan para Syuhada perang. Sebuah malam penghargaan terhadap Syuhada IRGC dalam perang 8 tahun yang dipaksakan AS terhadap Iran dan Irak pada 1980 melalui Saddam, rezim minoritas Baath yang represif di Baghdad.

"AS dan musuh-musuh lain, telah melakukan berbagai cara yang mereka bisa terhadap Republik Islam Iran, namun mereka gagal untuk mencapainya, meski satu hal. Hari ini, Revolusi dan Pembentukan Islam semakin kuat di wilayah dan dunia", demikian penggalan pernyataan Imam Ali Khamenei pada Selasa.

Imam Ali Khamenei mengatakan, IRGC adalah entitas-entitas terkemuka di garis depan perjuangan untuk perdamaian dan stabilitas, dengan memimpin pertempuran di bidang operasional, menghadapi musuh di perbatasan, dan bahkan ribuan kilometer jauhnya dari perbatasan, di sekitar makam Sayyidah Zainab di Damaskus, serta dalam konfrontasi politik dengan musuh.

Singkatnya, permusuhan AS terhadap Iran kini memasuki fase baru, fase penting dalam pergolakan. Dan langkah terbaru Trump ini akan mempercepat kemenangan rakyat di berbagai wilayah dengan runtuhnya semua tentara teroris Amerika di jantung Pusat Komando Amerika. Sekaligus akan mempercepat akhir pendudukan Zionis ilegal, dan rezim reaksioner Arab, yang merupakan teroris nyata di Asia Barat. [ Islam Times.org' target='_blank'>Islam Times]
Artikel Terkait
Comment