1
Monday 15 April 2019 - 02:15

Kudeta Gantikan Kudeta di Sudan untuk Apa?

Story Code : 788639
Demo di Sudan (CNN)
Demo di Sudan (CNN)
Yang terjadi di Sudan hanyalah sebuah perubahan seremonial yang dilakukan oleh para penjaga istana presiden di Khartoum, sebab pengganti Omar al-Bashir juga seorang jenderal militer.

Dengan kata lain, kudeta di Sudan adalah sebuah topeng untuk menggantikan kudeta militer tahun 1989, dengan menggunakan aspirasi rakyat Sudan untuk mengambil alih kekuasaan dari belakang.

Pada Kamis, 11/04/19, Jenderal Abdel-Fattah al-Burhan Abdur-Rahman, mengambil alih kekuasaan di Sudan. Seperti semua pemimpin kudeta lainnya di seluruh dunia, Abdel-Fattah al-Burhan membentuk dewan transisi yang terdiri dari para pria berseragam militer dengan "janji" samar-samar untuk menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sipil dalam waktu dekat. Hal yang sepertinya tidak akan dilakukannya dalam waktu dekat, atau sama sekali.

Kudeta Sudan Kamis itu, sepertinya senyap dari sorotan dunia, tidak ada yang menganggapnya begitu serius, bahkan oleh kelompok yang memimpin protes, Asosiasi Profesional Sudan,- تجمع المهنيين السودانيين,- (SPA) meki mereka terang-terangan menolak deklarasi kudeta militer.

Kelompok ini senantiasa menyerukan kepada masyarakat Sudan untuk tetap melanjutkan demonstrasi besar dan aksi duduk di luar markas militer.

SPA, adalah sebuah organisasi payung yang beranggotakan para dokter, pengacara dan jurnalis. Dalam sebuah pernyataannya, SPA mengatakan, "Rezim telah melakukan kudeta militer untuk mereproduksi wajah dan entitas yang sama yang telah dilawan oleh orang-orang besar kita", tulis SPA via Twitter, https://twitter.com/associationsd

SPA berjanji akan terus melakukan protes sampai kekuasaan militer diserahkan kepada pemerintah transisi sipil.

Well, ini berarti masyarakat Sudan harus menyiapkan dirinya untuk menjadi tumbal pelor dan timah panas militer. Dan tentu saja dunia akan menyaksikan puluhan, ratusan bahkan ribuan kematian rakyat Sudan di ujung senjata militer yang pernah mereka dukung sebelumnya. Dalam pernyataan via Twitter, SPA ingin membuktikan bahwa mereka memiliki semangat pengorbanan yang tak tergoyahkan untuk mengubah status quo.

Menurut Agence France-Presse (AFP), saat ini ribuan rakyat tetap berdiri tegak melakukan protes massal dengan mendirikan kemah-kemah di luar markas tentara di Khartoum untuk menjaga tekanan pada dewan militer yang mengambil alih kekuasaan Omar al-Bashir pada Kamis.

Ini akan menjadi tugas berat bagi rakyat Sudan, dan hanya waktu yang akan menentukan seberapa besar massa mampu menghadapi krisis seperti ini.

Sisi lain, kepemimpinan militer baru, tetap beranggotakan wajah-wajah lama, seperti Menteri Pertahanan, Awad Mohamed Ahmed Ibn Auf yang mendapat dukungan penuh dari rezim Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), dan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dukungan Mesir, yang berpura-pura bermain poker dengan al-Bashir. Sebuah replika dari rencana permainan tipu-tipu yang menjatuhkan satu-satunya presiden Mesir terpilih, Mohammad al-Morsi pada tahun 2013, dengan merawat Jenderal Abdel-Fattah as-Sisi di belakang layar.

Arab Saudi, UEA dan Mesir, memuji jatuhnya al-Bashir, sementara mereka menginstal kembali al-Bashir yang sama untuk menduduki ibu kota, dan melumuri telapak tangannya dengan segenggam dolar untuk memotong hubungan diplomatik dengan Republik Islam Iran dan menjalin hubungan dengan rezim Zionis ilegal, di samping mengorbankan tentara murahan mereka untuk perang bunuh diri di Yaman.

Jenderal Abdel Fattah al-Burhan mungkin saja tidak akan menyerahkan al-Bashir ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk kejahatan perang yang pernah dilakukannya di Darfur satu dekade lalu, tetapi satu hal yang pasti, Sang Jenderal sangat senang dengan ayah baptis terorisme, AS. Jenderal dengan mudah memberikan pangkalan militer kepada Amerika, yang dengan itu, ia dapat tetap langgeng untuk memerintah tanpa ada hambatan dengan mengorbankan aspirasi rakyat dan demokrasi di Sudan.

Tentu saja, semua ini merupakan indikasi plot yang sangat rumit untuk menyebarkan Tentakel Israel di Afrika Timur Laut, dan wilayah Laut Merah untuk mengkompensasi kemunduran yang dialami oleh trinitas reaksioner Amerika-Zionis-Arab yang remuk redam di Irak, Suriah, dan Lebanon di tangan rakyat negara-negara tersebut.

Sebuah Front Perlawanan rakyat muncul yang terinspirasi oleh Republik Islam Iran.

Yaman kini berubah menjadi Vietnam bagi kerajaan Saudi Arabia, yang dari sana tumbuh kekhawatiran menyelimuti istana-istana kerajaan Arab dan Barat mengenai tren peristiwa yang akan berdampak munculnya sebuah perlawanan bagi kaum tertindas di dunia.

Perubahan topeng yang begitu mendadak di Khartoum, jelas untuk menggugurkan tahap embrionik kekhawatiran perlawanan itu. Hal yang kemungkinannya adalah usaha memotong langkah gerakan Perlawanan yang berpotensi menyalakan kembali api pengorbanan kaum lemah yang siap meruntuhkan "Lord of Misrule" dukungan Zionis, al-Sisi di Kairo.

Sebuah tren perlawanan kaum mustadafin dengan konsekuensi berbahaya bagi penguasa di Riyadh, Amman dan penguasa-penguasa di kawasan Teluk Persia dan Barat.[IT]
Artikel Terkait
Comment