0
Saturday 13 July 2019 - 02:22

Penyitaan Kapal Tanker dan Peringatan Keras Iran Kepada Inggris

Story Code : 804733
Philip Hammond dan Zarif di Tehran
Philip Hammond dan Zarif di Tehran
"Kami menyerukan (Inggris) untuk melepaskan kapal tanker minyak sesegera mungkin, karena itu akan menjadi kepentingan semua orang," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi dalam sebuah wawancara dengan Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA).

Dalam wawancara itu, Abbas Mousavi mempertanyakan dasar hukum penahanan kapal oleh Marinir Kerajaan Inggris di Mediterania minggu lalu.

Pihak berwenang Inggris dalam sebuah rilis berita yang dilansir oleh Reuters mengatakan kapal supertanker Iran itu membawa 2,1 juta barel minyak mentah ringan ke sebuah kilang di pelabuhan Suriah yang melanggar sanksi Uni Eropa.

Sebuah klaim yang ditolak tegas oleh para pejabat Iran.

Mousavi lebih lanjut mengatakan, Tehran percaya bahwa supertanker, Grace 1, ditangkap atas permintaan Amerika Serikat. Hal yang secara implisit dipertegas oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Spanyol Josep Borell yang pekan lalu menyatakan bahwa Gibraltar menahan kapal tersebut setelah banding dari AS.

"Pertanyaan kami kepada otoritas Inggris adalah: Apakah Uni Eropa memberlakukan sanksi minyak pada Iran?" tanya Abbas Mousavi.

"Klaim itu tanpa dasar hukum dan kami menyarankan (Inggris) untuk tidak memulai permainan berbahaya dan tidak jelas di bawah pengaruh Amerika," tandasnya.

Konfrontasi atas kapal tanker Iran itu terjadi di tengah-tengah provokasi mencurigakan yang lebih luas di Teluk Persia, termasuk serentetan serangan baru-baru ini terhadap kapal-kapal komersial di wilayah tersebut.

Inggris sebelumnya pada Kamis mengklaim bahwa kapal-kapal Iran berusaha memblokir kapal tanker minyak British Heritage dekat Selat Hormuz, tetapi dihalau oleh kapal pengawal angkatan laut Inggris.

Menjawab klaim Inggris itu, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) menolak tegas klaim Inggris bahwa pasukan angkatan lautnya mencoba menghentikan kapal tanker Inggris.

Pemerintah Inggris pada Jumat, 12/07/19, mengerahkan kapal perusak HMS ke wilayah tersebut, menggantikan HMS Montrose.

Berita itu muncul setelah Perdana Menteri Theresa May yang akan mundur dari jabatan PM mengatakan, dirinya akan memulai pembicaraan dengan pihak berwenang AS untuk meningkatkan kehadiran trans-Atlantik di kawasan itu.

Sejauh ini Inggris sudah memiliki empat kapal pemburu ranjau yang ditempatkan di wilayah tersebut. Sementara para mantan komandan angkatan laut, termasuk Laksamana Lord West, memperingatkan Inggris bahwa kerajaan hanya memiliki delapan fregat yang sedang berpatroli. Inggris juga telah meningkatkan tingkat keamanan untuk kapal-kapal Inggris di Teluk Persia ke keadaan siaga tertinggi.

Keputusan untuk meningkatkan level ancaman ke 3, atau "kritis," dibuat pada hari Selasa, menurut laporan media Inggris.

Tingkat keamanan 3 diterapkan ketika dan di mana risiko serangan terhadap kapal Inggris dinilai sangat kritis, menurut kode keamanan Fasilitas Kapal dan Fasilitas Pelabuhan Internasional (ISPS).

Inggris "tidak berusaha untuk meningkatkan situasi dengan Iran," dalih Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt setelah penempatan itu diumumkan.

"Tidak ada dari kita yang mencari konflik. Dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk melindungi pengiriman, ini saatnya untuk kepala dingin," katanya dalam jumpa pers Jumat, 12/07/19.

Sementara Abbas Mousavi, dalam mengomentari kehadiran militer asing yang menumpuk di Teluk Persia dan berkontribusi terhadap ketidakstabilan wilayah mengatakan, hal itu harus dianggap sebagai bahaya bagi semua orang.

Kapten dan kepala petugas kapal Iran juga ditangkap oleh otoritas Gibraltar pada hari Kamis setelah kapal itu dicari selama lebih dari seminggu.

Iran kemudian menuduh Inggris melakukan pembajakan dan memanggil duta besar Inggris untuk Tehran, Robert Macaire, empat kali dalam sepekan terakhir.

Terkait masalah ini Mousavi, mengatakan; "Ini adalah permainan berbahaya dan kami menyarankan mereka untuk tidak terlibat dalam permainan ini di bawah pengaruh Amerika".

Sementara itu ulama senior Kazem Sediqi dalam khutbah Jumat di Tehran mengatakan, "Inggris akan segera mendapatkan tamparan dari lengan kuat atas pendirian kami, karena tindakan gegabah, sembrono dan lalai yang akan membuat mereka menyesal untuk selamanya."

Mohamed ElBaradei, mantan direktur jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), secara khusus meminta Inggris untuk tidak terlibat dalam rencana AS terkait konvoi militer di Teluk Persia.

Menuduh AS berperilaku seperti "banteng di toko China" dan membawa dunia ke jalan buntu, ElBaradei mengatakan pendekatan konfrontatif Gedung Putih tidak akan menyelesaikan ancaman yang ditimbulkan oleh perjanjian nuklir dengan keputusan AS yang telah menarik diri dari kesepakatan.

Mousavi mempertegas, bahwa setiap kekuatan asing harus meninggalkan kawasan itu karena Iran dan negara-negara kawasan lain mampu mengamankan keamanan regional.

"... Iran telah berulang kali menyatakan kesiapannya mengadakan pembicaraan dengan tetangganya untuk menyelesaikan perselisihan," katanya. [IT]
Artikel Terkait
Comment