0
Saturday 21 September 2019 - 17:03

Menyingkap Kunjungan Taliban ke Tehran

Story Code : 817494
Seorang pejabat Taliban mengatakan kelompok militan itu telah melakukan pertemuan tatap muka pertama dengan para pejabat AS. AFP
Seorang pejabat Taliban mengatakan kelompok militan itu telah melakukan pertemuan tatap muka pertama dengan para pejabat AS. AFP
Menurut Abbas, kunjungan Taliban itu dalam kerangka konsultasi komprehensif Iran dengan semua pihak di Afghanistan. Sebuah delegasi politik yang dipimpin Taliban untuk membahas perkembangan terakhir di Afghanistan bersama Tehran, kata Abbas waktu itu.

Kunjungan Taliban ke Tehran, sangat erat hubungannya dengan kapitulasi AS setelah 18 tahun perang yang dampak dan konsekuensi geopolitiknya sangat besar bagi negara-negara di kawasan Asia Tengah.

Ketika AS meluncurkan agresi ilegal di Afghanistan pada Oktober 2001, Iran tidak mendukung Washington kala itu. Tehran juga pada awalnya tidak mendukung perlawanan Taliban terhadap AS. Sikap Tehran ini sangat wajar, mengingat para pengikut gerakan "Islam" reaksioner Taliban pada masa itu, banyak terkontaminasi oleh ide-ide dan ideologi Wahabi yang diekspor Saudi.

Peran Iran selama serangan AS terhadap Afghanistan kemudian dimanfaatkan berbagai organisasi "Islam" pro Taliban yang didanai Saudi untuk menggambarkan Iran sebagai bagian dari agresor dan bersama AS. Narasi propaganda begitu massif kemudian dimegavonkan oleh Saudi Arabia hingga negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, seperti Indonesia, benar-benar termakan propaganda itu. Sebagian negara bahkan tidak mengakui Iran sebagai negara Islam, apalagi sistem pemerintahan Islam. Iran dianggap agresor seperti AS. Propaganda Wahabi yang diekspor Saudi ke Afghanistan pun berhasil menggambarkan Muslim Syiah sebagai "kafir" dan menumpahkan darah mereka sebagai sesuatu yang halal.

Kini, kondisi berubah. Menurut analisis dari sumber-sumber terbuka, setelah dekade pertama perang, Taliban mulai memandang Republik Islam Iran dengan berbeda. Seiring itu, Taliban kini menjadi sebuah gerakan perlawanan matang dan sangat diperhitungkan sebagai sebuah gerakan sosial-politik yang canggih. Taliban mulai memainkan peran politik secara ciamik dan mulai menarik diri keluar dari pola pikir Wahabisme yang sempit. Taliban ingin merangkul Iran yang Islami.

Sementara itu, lepas hengkangnya pasukan AS dari Afghanistan, rezim Kabul yang didukung Washington saat ini juga akan berbagi nasib dengan pemerintah Vietnam Selatan. Ini tergambar jelas ketika Sediq Sediqqi, juru bicara pemerintah Afghanistan, mengutuk keras pertemuan Iran dengan Taliban. Tapi pada saat yang sama, menggerendel mulut ketika sembilan putaran pembicaraan antara AS dan Taliban digelar di Doha.

Taliban sepertinya sedang berada di atas angin. Kelompok ini nampaknya akan memperoleh kendali Kabul dan segera memerintah Afghanistan. Sejauh ini, mereka sudah menguasai 70% wilayah Afghanistan. Sisanya, dikuasai oleh kelompok Takfiri ISIS dan pemerintah.

Jika Iran, yang diperintah oleh gerakan Islam yang berakar pada komitmen terhadap keilmuan, dan Afghanistan, yang diperintah oleh pandangan dunia Islam tradisional, menjalin sebuah hubungan kerja logis maka akan muncul dinamika geopolitik baru di Asia Tengah yang dapat berkontribusi positif bagi perdamaian di kawasan dan dunia. Satu hal yang sangat diharapkan oleh segenap Muslimin dunia, baik Syiah maupun Sunni. Maka sangat natural jika kemudian muncul sabotase terselubung yang dimainkan AS via Wahabi Saudi, setelah AS benar-benar mundur dari Afghanistan dan terlihatnya kelihaian Taliban dalam mengelola urusan negara.

Jika Taliban berhasil mengurangi ketegangan intra-Afghanistan dan cenderung memperbaiki kemitraan ekonomi yang kuat dengan Pakistan dan Iran, maka Afghanistan dapat berubah menjadi sebuah kekuatan besar dan pesat di Asia Tengah. Tapi pertanyannya, apakah Saudi yang Wahabi dan AS akan membiarkan Afghanistan berdiri di atas kaki sendiri dan menjalin hubungan bilateral dengan Iran yang Syiah?! []

 
Artikel Terkait
Comment