0
Thursday 5 December 2019 - 08:41

KTT NATO London, Jalan Kematian Uni Eropa

Story Code : 830853
NATO
NATO
Mayoritas anggota NATO adalah negara-negara Eropa.

Realitas menunjukkan, krisis yang dihadapi Amerika Serikat dan anggota NATO tidak akan segera berakhir dengan mudah. Setidaknya sampai Trump kembali menduduki Gedung Putih, kekhawatiran ini akan tetap berkembang. Di sisi lain, masa depan presiden Amerika Serikat itu akan menghadapi aktor Barat dengan dilema lebih serius.

Presiden AS Donald Trump yang keras kepala, terus meningkatkan ancaman dengan memotong pengeluaran pertahanan NATO. Di sisi lain, pernyataan Presiden Perancis Emanuel Macron di KTT beberapa hari lalu tentang kematian otak NATO menunjukkan bahwa beberapa anggota NATO, menyadari cara pendekatan negatif Gedung Putih terhadap Perjanjian Atlantik Utara itu.

Hubungan antara Rusia dan NATO sekarang dalam kondisi terburuk setelah Perang Dingin.

"Mikhail Gorbachev", Presiden Soviet terakhir, juga memperingatkan  dimulainya kembali Perang Dingin antara Gedung Putih dan Kremlin yang sebelumnya terjadi. Meski para pejabat Rusia percaya, konflik berkelanjutan dan ekstensif antara Moskow dan Barat menyebabkan mereka jauh lebih rumit daripada di masa Perang Dingin.

KTT NATO di London tidak hanya akan membawa Organisasi Perjanjian Atlantik Utara itu jauh dari penguatan ikatan lebih dekat, bahkan justru mempertajam krisis yang sudah ada antara AS dan Eropa.

Salah satu masalah yang menyebabkan begitu frustrasi diantara warga Eropa dari KTT ini adalah ketergantungan Uni Eropa pada Amerika Serikat.

Sementara mantan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton dan Trump berulang kali memegavonkan penentangan keberadaan Uni Eropa dan Zona Euro. Sejauh ini Eropa belum mengambil sikap dan langkah menuju kemerdekaan dari Amerika Serikat.

Sepertinya, para pejabat Eropa melakukan kesalahan perhitungan dan sikap mereka terhadap pemerintah AS. Kesalahan besar ini bisa menyebabkan matinya Uni Eropa dan zona euro.

Tidak diragukan lagi, orang-orang seperti Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron akan menyadari kesalahan mereka yang sudah sangat terlambat.

Pertanyannya, bisakah otoritas Eropa dapat memahami bahaya nyata ini?. [IT]


 
Artikel Terkait
Comment