0
9
Komentar
Sunday 2 March 2014 - 18:52
Gerakan Takfiri Internasional

Pengamat: "Darul Islam (DI), Akar Terorisme Indonesia"

Story Code : 357144
Darul Islam (DI)
Darul Islam (DI)

Isu dan aksi terorisme yang diciptakan AS cs, kemudian diperagakan segelintir Muslim yang berpikiran dangkal, reaksioner, dan berilmu cupet, makin marak di Indonesia. Paling arnyar, para pakar terorisme memperingatkan tentang bakal meningkatnya aksi terorisme di tanah air yang jauh lebih berbahaya bila para teroris takfiri warga Indonesia yang ikut-ikutan memberontak di Suriah, pulang ke tanah air.

Berkenaan dengan itu, Islam Times.org' target='_blank'>Islam Times mengutip wawancara khabarsoutheastasia.com dengan jurnalis asal Jakarta yang meliput perburuan terorisme selama bertahun-tahun dan salah satu saksi mata tragedi bom Bali Oktober 2002, Solahudin. Juni tahun lalu, penelitian bertahun-tahunnya ihwal gerakan ekstremis Indonesia dibukukan dengan judul, "Akar Terorisme di Indonesia". "Persoalan itu sangat rumit dan akarnya telah berumur lebih dari 50 tahun," katanya.

Berikut petikan wawancaranya:

Tanya (T): Mengapa Anda mengatakan bahwa akar terorisme di Indonesia telah berusia beberapa dekade?

Solahudin (S): Tiga tersangka pengeboman Bali (Mukhlas, Imam Samudra, dan Amrozi) semuanya mempraktikkan jihadisme salafi, yang mencap penolakan pemerintah untuk menerapkan hukum syariah sebagai kafir dan harus diperangi lewat jihad.

Ideologi ini memungkinkan terorisme sebagai bagian dari jihad, termasuk membunuh warga sipil, anak-anak, dan perempuan, yang dilarang sebagian besar pemimpin Islam.

Saya meneliti apakah itu benar-benar ideologi impor. Sebenarnya, itu adalah ideologi yang tumbuh di sini dan telah mekar jauh sebelum al-Qaeda memproklamirkan dirinya. Lewat penelitian yang panjang, saya temukan bahwa Darul Islam, organisasi yang didirikan Kartosuwiryo pada 1950-an, menjadi yang pertama dianggap sebagai akar terorisme di Indonesia.

Organisasi ini mencap mendiang pemerintahan di bawah kepemimpinan Soekarno sebagai kafir karena menolak menerapkan syariah. Pada 1980-an, sekitar 200 jihadis bertolak ke Afghanistan untuk mengikuti pelatihan militer dan mempersiapkan diri guna melawan pemerintah.

Dan pada 1990-an, beberapa anggota Darul Islam memutuskan untuk memisahkan diri dan mendeklarasikan organisasi baru yang dikenal dengan Jamaah Islamiyah (JI). Mereka memperkenalkan ideologi jihadisme salafi, yang juga mencap pemerintah yang menolak menerapkan syariah sebagai kafir. Jadi, sebagaimana Anda saksikan, itu (terorisme) sebanarnya bukanlah ideologi impor.

T: Apa yang menyebabkan terorisme tumbuh subur di Indonesia?

S: Cukup bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Di daerah konflik seperti Poso, terorisme tumbuh karena adanya orang-orang yang kecewa terhadap pemerintah. Sementara di Jawa, yang dianggap sebagai daerah aman, murni dimotivasi agama. Jadi tidak hanya disebabkan rendahnya latar belakang pendidikan atau kesejahteraan.

Intinya, radikalisme (baca: ekstrimisme) dan terorisme tumbuh dengan cepat jika tiga aspek utama terpenuhi: orang-orang yang kecewa terhadap sistem saat ini, ideologi yang membolehkan hal semacam itu, dan organisasi-organisasi pendukung.

T: Bagaimana Anda melihat upaya pemerintah saat ini dalam memerangi terorisme?

S: Usaha intensif dari pemerintah , saya akan mengatakan , banyak membantu untuk mengurangi kualitas terorisme .

Sejak 2010 hingga 2013, terdapat 80 kasus dan sekitar 300 tersangka yang ditangkap. Namun, jika dibandingkan tragedi Bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang, hanya terdapat kasus-kasus kecil yang tidak merengut banyak korban. Hanya sedikit yang dibunuh. Sebagian besar mereka adalah tersangka yang tewas dalam misi bom bunuh dirinya.

Saya dapat mengatakan bahwa angka-angkanya mungkin meningkat, namun kualitasnya menurun, berkat polisi dan Densus 88 yang telah bekerja keras untuk memecahkan kasus-kasus tersebut. Namun, pendekatan keras melalui penegakan hukum semacam itu belum cukup, karena hanya mendakwa kejahatan para tersangka yang terlibat.

T: Apa yang harus menjadi langkah berikutnya?

S: Terdapat pula pendekatan lunak (soft approach), yang berarti memerangi terorisme sampai ke akar-akarnya. Harus ada penelitian khusus untuk itu, karena perlakuan di Jawa dan Poso akan berbeda. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah, menyertakan masyarakat dalam upaya tesebut, karena terorisme merupakan kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan. (IT/KSEA/rj)
Artikel Terkait
Comment


Indonesia
Pada awalnya memang DI yg bermaksud memformalkan syariah Islam, ttp kmd menjadi pragmatis _setelah masuk pd dunia nyata yg heterogen dan kesepakatan ulama atas NKRI. Spt yg sdh2 politik kekerasan akhirnya yg bermain dgn maksud pemaksaan kehendak. Pergerakan demi pergerakan dari kelompok garis keras yg tdk puas kmd berlanjut terus sbgmana kita bisa lihat skrg dgn maraknya kasus intoleransi, teroris, sumpahan2 atas pemerintah yg sah. Jika kemarin kelompok ini masih malu2, tetapi skrg di era reformasi kelompok ini sdh semakin terang2an, bahkan sdh mendukung ISIS yg akan menjadi protipe gerakan mrk selanjutnya utk merongrong NKRI. Kita tdk mengetahui persis apa strategi pemerintah trhadap mrk? Apa tetap merangkul dgn pembinaan mental dan faham atau justru memberangus cikal bakal teroris ini. Indikatornya adalah intensitas kekerasan dan kasus teroris saja, jk terus brlanjut.... dan penerintah lemah... presiden terpilih juga ayam sayur... maka NKRI akan jd negara tdk karuan seumur hidup. Solusinya adalah penegakkan hukum atas warga negara pelanggar hukum tanpa pandang bulu.... dlm hal ini warga berjubah atau bercelana cingkrang tdk boleh kebal hukum. Proses hukum yg tegas menjadi wibawa NKRI dan pelindung keamanan warga negara. Kesepakatan ulama atas sistem yg sah di indonesia hrs tetap menjadi agenda utama pembangunan. Kami hanya ingin hidup tenang dlm mencari keridhoan Allah Swt. Insyaallah.
Kuwait
waspadalah bahaya salafi wahabi takfiri !! Mereka menghalalkan darah selain golongannya.. Padahal tidak akan dikatakan jihad jika memerangi sesama muslim!
Kuwait
Kecambah2 DI TII ternyata sdh jadi pohon rindang berakar kuat, lihat saja LSM LSM wahabi makin marak dan makin berani terang2an mendukung teroris, meski dedengkotnya masih terpenjara. Nauzubilah!! Jauh bangsa indonesia dari fitnah dan adu domba, pemerintah segera turun tangan berantas radikal2, berantas teroris2, jgn terkecoh dgn simbol2 dahwah, krn mrk sdh lebih masuk ke ranah politik ingin meruntuhkan NKRI
Tumpas..!!! paham laknat ini si wahabi bin takfiri bin al saud.
Norway
Menuduh Darul Islam sebagai akar teroris Indonesia tidak dapat dibenarkan. Secara tidak langsung Solahuddin telah membenarkan penyulapan Piagam Jakarta oleh Soekarno cs. DI tidak pernah menghalalkan darah pihak manapun yang berbeda pemahaman dengan mereka sebagaimana sepakterjang kaum takfiri yang membunuh walau anak-anak sekalipun. Para jihadis itu adalah _importir dari Arab Saudi...
Norway
Menuduh Darul Islam sebagai akar teroris Indonesia tidak dapat dibenarkan. Secara tidak langsung Solahuddin telah membenarkan penyulapan Piagam Jakarta oleh Soekarno cs. DI tidak pernah menghalalkan darah pihak manapun yang berbeda pemahaman dengan mereka sebagaimana sepakterjang kaum takfiri yang membunuh walau anak-anak sekalipun. Para jihadis itu adalah _importir dari Arab Saudi...
Norway
Kenapa respon saya tidak dimuat?

Yang mengkafirkan siapapun yang tidak menghukum dengan hukum yang diturunkan Allah bukan DI tetapi Allah sendiri (Q.S, al Maidah 44, 45 dan 47). Saudi Arabia sebagai mesin pruduksi kaum Takfiri Wahabi juga tidak menghukum dengan hukum yang diturunkan Allah. Jadi 180 derajat beda antara DI dengan kaum takfiri Arab Saudi.

Solahudin keliru 180 derajat ketika berbicara akar persoalan kaum takfiri Indonesia.
Norway
Pengamat Indonesia salah makan obat kertika berbicara kaum takfiri wahabi Arab Saudi. Betapapun NKRI keliru saat berhadapan dengan DI. Kalau NKRI mengambil kesempatan untuk mendiskreditkan Darul Islam ketika berbicara para teroris takfiri, terindikasi pengamat dari NKRI salah makan obat. Kalau "Islam Time" tidak memuat respon saya, terindikasi Islam Time juga salah makan obat.
Kuwait
Ketika anda menghujat penulis atau pengamat ttg topik diatas bhw "salah makan obat" maka berarti mereka jauh melesat dgn kemajuan berfikir dan justru meninggalkan anda sendirian yg "penyakitan" krn kurang makan obat alias kurang membaca. Nampaknya anda tdk faham bgmn usaha memformalkan syariah islam dari masa ke masa dari reginal ke regional yg lain jauh sebelum NKRI ada, hgg timbul usaha2 membangun sistem khilafah yg justru berakhir dgn pragmatis sampai mengorbankan darah. Dan bgtu NKRI terbntuk hal yg sama terjadi lagi, bahkan sampai kinipun itu terus diperjuangkan utk menggoyang NKRI dan menggoyang negara manapun yg tdk sefaham. Bukankah anda tau bgmn mrk menyebut pemerintah kafir? Boleh jadi andapun termsuk yg doyan menskriditkan pemerintah NKRI. Saran sy coba baca buku : Islam Syariah oleh DR. Haidar Nasher terbitan Mizan bandung. Pak Haidar ini tokoh muhamadiyyah, Buku itu adalah thesis beliau.