0
Friday 11 January 2019 - 16:31
AS dan Kasus Pembunuhan Khasshogi:

Parlemen AS Tuntut Pertanggungjawaban Kematian Khashoggi

Story Code : 771453
Jamal Khashoggi
Jamal Khashoggi's symbolic funeral in Istanbul.jpg
Mereka  juga berjanji bahwa Kongres akan bertindak jika Pemerintah Presiden Donald Trump tidak melakukannya.

Puluhan senator dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, termasuk dari Demokrat dan Republik, berbicara dalam sebuah acara di kompleks Gedung Capitol untuk merayakan kebebasan media serta mengenang Khashoggi dan 50 lebih wartawan lain di seluruh dunia yang kehilangan nyawa  tahun lalu.

Demokrat, yang menyesalkan kurangnya penyikapan yang kuat atas kematian Khashoggi dari pemerintah Presiden Donald Trump, mengatakan hubungan strategis ataupun komersial dengan Arab Saudi seharusnya tidak mengalahkan nilai-nilai demokrasi seperti kebebasan berpendapat.

"Jika kita memutuskan kepentingan komersial menggantikan pernyataan-pernyataan yang kita buat dan tindakan yang kita lakukan, kemudian kita harus mengakui bahwa kita kehilangan semua otoritas moral," ungkap Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Nancy Pelosi.

Sejumlah anggota parlemen AS telah menyerukan agar kematian Khashoggi disikapi.

Pada Desember lalu, sejumlah anggota Partai Republik bergabung dengan Demokrat untuk menentang presiden dan meloloskan resolusi Senat yang mengakhiri dukungan militer AS dengan koalisi pimpinan Arab Saudi dalam perang di Yaman. Mereka menyalahkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman atas pembunuhan Khashoggi.

Resolusi tersebut tidak dibahas oleh Partai Republik, yang pada saat itu memegang kendali Dewan Perwakilan Rakyat, namun kubu Demokrat berencana merevisi isu tersebut setelah meraih kemenangan mayoritas di Dewan pada pemilihan November lalu.

Wakil dari Partai Republik Mike McCaul, dari Komite Luar Negeri, menyebut kematian Khashoggi "satu kemunduran besar". "Perubahan harus dilakukan," katanya.

Pimpinan Komite dari Demokrat Eliot Engel mengatakan kepada Reuters bahwa dia merencanakan audiensi tentang hubungan dengan Arab Saudi dalam beberapa pekan mendatang.

Khashoggi, kolumnis The Washington Post yang berbasis di Amerika Serikat dan kerap mengkritik Putra Mahkota, terakhir terlihat memasuki Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Badan Intelijen AS (CIA) meyakini bahwa Putra Mahkota bin Salman menjadi dalang di balik pembunuhan Khashoggi. Sejumlah pejabat tinggi Turki juga menghubungkan kematiannya dengan para pemimpin tinggi Arab Saudi. Pejabat Saudi membantah tuduhan yang menyebutkan bahwa Putra Mahkota memerintahkan pembunuhan tersebut.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo sedang melakukan kunjungan ke Timur Tengah, termasuk Riyadh. Pejabat Kementerian Luar Negeri AS mengatakan bahwa dia berencana untuk menekankan perlunya akuntabilitas dan kredibilitas dalam penyelidikan kasus kematian Khashoggi.[IT/r]
 
 
Artikel Terkait
Comment