0
Monday 11 March 2019 - 23:28

Babak Baru Situasi Aljazair; Para Hakim dan Ulama Tolak Presiden Abdelaziz Bouteflika

Story Code : 782699
Para demonstran menolak presiden Aljazair
Para demonstran menolak presiden Aljazair
Sementara para ulama menentang keras peran negara dalam setiap aktivitas mereka. Sebuah penolakan ganda terhadap seorang pemimpin yang sedang jatuh dan tengah berjuang demi kelangsungan politiknya.

Bouteflika, yang kembali ke Aljazair pada hari Minggu setelah perawatan medis di Swiss, menyaksikan para sekutu lamanya menentang setelah bergabung dengan demonstrasi massa yang meminta dia untuk mundur, demikian lapor Reuters.

Di pekan ketiga, para pemprotes yang putus asa akibat langkanya lapangan pekerjaan, marah dengan banyaknya pengangguran dan praktek korupsi yang merajalela terus melakukan demonstrasi di kota-kota menuntut mundurnya Bouteflika untuk masa jabatan kelima.

Dalam sebuah pernyataan, para hakim mengatakan, suara mereka bersama para pemprotes dengan mengumumkan pembentukan asosiasi baru untuk mengembalikan keadilan.

"Kami mengumumkan niat kami untuk tidak melakukan ... mengawasi proses pemilihan yang bertentangan dengan keinginan rakyat, yang merupakan satu-satunya sumber kekuatan," kata para hakim dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan itu mendapat jawaban tajam dari Menteri Kehakiman Aljazair Tayeb Louh, anggota lingkaran dalam Bouteflika, yang mengatakan hakim harus tetap netral.

Sisi lain yang menambah kemarahan rakyat, Bouteflika berencana ikut kontes pemilihan pada bulan April mendatang. Senada dengan para hakim, para ulama juga memberi peringatan kepada menteri urusan agama untuk berhenti menekannya dan segera mengeluarkan para pengkhotbah pro-pemerintah.

"Tinggalkan kami untuk melakukan pekerjaan kami, jangan ikut campur," kata ulama Imam Djamel Ghoul, pemimpin kelompok ulama independen, dalam sambutannya kepada wartawan.

Bouteflika yang berusia 82 tahun menghadapi perjuangan terberat dari pemerintahannya yang berusia 20 tahun, setelah masa jabatannya menjadi presiden di negara paling kuat di Afrika Utara dalam 30 tahun.

Di kota Aljir, puluhan anggota serikat buruh melakukan unjuk rasa di luar markas besar serikat pekerja utama, UGTA dan meminta pemimpinnya Abdelmadjid Sidi Said, sekutu Bouteflika, untuk mundur.

Kepala negara yang sudah tua itu jarang terlihat di depan umum sejak mengalami stroke pada 2013. Namun pada April lalu, ia muncul di Aljir dengan kursi roda.

Sementara itu tentara seolah sedang berusaha menjaga jarak dengan Bouteflika. Dalam sebua pernyataan, kepala staf militer mengatakan militer dan rakyat memiliki visi yang sama tentang masa depan, demikian lapor TV pemerintah menukil pernyataan Letnan Jenderal Gaed Salah. [IT]
Artikel Terkait
Comment