0
Monday 22 April 2019 - 22:14
Iran vs Hegemoni Global:

Komandan AL IRGC: Iran Dapat Menutup Selat Hormuz Jika Tidak Dapat Menggunakannya

Story Code : 790056
IRGC speedboats in the Persian Gulf.jpg
IRGC speedboats in the Persian Gulf.jpg
Komandan Angkatan Laut IRGC Laksamana Muda Alireza Tangsiri membuat pernyataan dalam sebuah wawancara dengan saluran berita berbahasa Arab Iran Al-Alam yang diterbitkan pada hari Senin (22/4), hari yang sama ketika Gedung Putih mengumumkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah memutuskan untuk tidak menerbitkan kembali keringanan minyak Iran ketika mereka berakhir pada Mei.

"Menurut hukum internasional, Selat Hormuz adalah jalur air dan kami akan menutupnya [ke negara-negara lain] kalau-kalau kami dilarang menggunakannya," kata komandan militer Iran.

"Jika ada ancaman, kami tidak akan ragu untuk mendukung dan mempertahankan perairan Iran. Kami akan membela kehormatan kami dan akan mengambil tindakan timbal balik ketika akan melindungi hak-hak Iran," tambahnya.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (22/4), Gedung Putih mengatakan bahwa Trump telah memutuskan untuk tidak menerbitkan kembali keringanan yang memungkinkan importir untuk membeli minyak Iran tanpa menghadapi sanksi AS ketika mereka berakhir pada bulan Mei.

Dia menambahkan bahwa Amerika Serikat, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab "telah sepakat untuk mengambil tindakan tepat waktu untuk memastikan bahwa permintaan global terpenuhi karena semua minyak Iran dikeluarkan dari pasar."

Presiden AS menarik Washington pada Mei 2018 dari perjanjian nuklir multilateral, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif (JCPOA), yang dicapai antara Iran dan enam kekuatan dunia pada tahun 2015. Setelah itu, Washington memberlakukan kembali sanksi sepihak terhadap Iran yang telah diangkat berdasarkan kesepakatan.

November lalu, AS memberlakukan sanksi yang menargetkan sektor perbankan dan energi Republik Islam. Namun, itu memberikan keringanan kepada delapan importir utama minyak Iran, termasuk Cina, India, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Turki, Italia dan Yunani, karena khawatir ketidakstabilan pasar.[IT/r]
 
Artikel Terkait
Comment