0
Saturday 13 July 2019 - 03:49

Wawancara Sekjen Hizbullah: "Amerika Tak akan Lancarkan Perang terhadap Iran"

Story Code : 804738
Sayyid Hassan Nasrallah
Sayyid Hassan Nasrallah
Tanggal 12 Juli adalah peringatan 13 tahun dimulainya perang Israel 33 hari di Lebanon yang oleh kelompok perlawanannya, Hizbullah, berhasil mengalahkan musuh Zionis dengan mencegahnya mencapai salah satu targetnya.

Berikut petikan wawancara Sayyid Hassan Nasrallah dengan TV al-Manar Lebanon.

Terkait kehidupan di Lebanon, Hassan Nasrallah mengatakan, masyarakat Lebonon hidup aman sejak 2006 karena prestasi perang 2006, dan hal ini telah mencegah Israel menyerang Lebanon.

"Kami memiliki pasukan infanteri yang memiliki kemampuan khusus. Perlawanan lebih kuat dari sebelumnya meskipun ada sanksi dan itu meningkatkan kemampuannya selama 13 tahun terakhir, dan ini telah diakui oleh Israel", kata Nasrallah.

Nasrallah menanggapi pertanyaan mengenai kepemilikan rudal, dikatakannya; "Siapa yang mengatakan bahwa kami tidak memiliki rudal anti-pesawat, dan siapa yang mengatakan kami memilikinya? Kami mengikuti kebijakan ambiguitas konstruktif dalam hal ini.

"Perlawanan sekarang lebih kuat dari sebelumnya dalam hal kemampuannya untuk menargetkan front domestik musuh".

Sayyid Hassan menolak pandangan soal pengembalian Lebanon ke zaman batu dan meremehkan kemampuan Lebanon.

"Perlawanan dapat menargetkan seluruh Israel dengan daya tembaknya. Kami tidak akan menargetkan Israel selatan selama perang apa pun, melainkan pantai utara yang padat penduduk.

"Saya mengesampingkan perang Israel di Lebanon karena kekuatan pencegahan", katanya.

Mengenai kemunkinan perang dimasa mendatang dengan Israel, Hassan Nasrallah mengatakan, "Setiap perang akan lebih besar dari perang 2006 untuk Israel, dan itu akan menempatkannya di ambang kepunahan.

"Saya yakin bahwa kita dapat meraih kemenangan dalam konfrontasi yang akan datang. Dan saya memiliki harapan besar bahwa saya secara pribadi akan berdoa di Yerusalem (al-Quds)".

Ketika ditanya mengenai Kesepakatan Abad Ini yang digagasan Donald Trump, Sayyid Hassan mengatakan, "Kami yakin bahwa "kesepakatan abad ini" akan gagal".

Mengenai pengiriman pasukan Hizbullah ke Suriah dan penarikannya, dikatakannya, "Kami telah mengerahkan dan menurunkan pasukan kami di Suriah karena membaiknya situasi keamanan. Saat ini belum saatnya penarikan penuh Hizbullah dari Suriah".

Mengenai serangan Israel jet-jet tempur Israel di Suriah, dikatakannya, "Serangan Israel terbaru di Suriah tidak menargetkan sasaran penting. Dan serangan Israel tidak akan menyebabkan diusirnya Iran dari Suriah, dan mereka berisiko bagi Israel. Iran tidak akan menarik diri dari Suriah".

"Hizbullah bukan pemimpin pertempuran di Suriah dan Iran juga tidak", tandasnya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan serangan Iran terhadap AS, Hassan Nasrallah mengatakan, "Iran tidak akan memulai perang melawan siapa pun. Saya sangat mengesampingkan bahwa Amerika mungkin akan melancarkan perang terhadap Iran. Trump bertaruh pada file ekonomi", tandasnya.

Terkait dengan ketegangan antara Iran dan AS, "serangan dan serangan balasan mungkin terjadi, tetapi kedua belah pihak akan berusaha untuk mengatasi situasi tersebut".

Terkait kronologis penembakan drone AS di Selat Hormuz, Hassan Nasrallah mengatakan, "Iran mengirim pesan melalui negara ketiga pada hari drone itu jatuh, dan mengatakan mereka akan membalas terhadap target AS dalam hal serangan AS".

Mengenai dukungan terhadap Iran, "Tidak seorang pun akan dapat memisahkan diri dari perang melawan Iran di wilayah tersebut. UEA tidak akan tetap aman jika terjadi perang terhadap Iran.

"Jika UEA dan Arab Saudi hancur, apakah itu demi kepentingan rakyat dan pemimpin mereka?", tanya Nasrallah.

"Wilayah ini akan terbakar jika terjadi perang terhadap Iran. Arab Saudi dan Israel akan membayar harga terberat, mengingat UEA telah mulai mengamankan posisinya", katanya.

"Iran akan mengebom Israel jika terjadi perang di wilayah tersebut. Ancaman untuk menghancurkan Arab Saudi dan UEA tidak dapat menghalangi AS untuk melancarkan perang terhadap Iran, melainkan ancaman untuk menyerang pasukannya di kawasan dan Israel".

Terkait dengan usaha AS mencari kontak dengan Hizbullah, Hassan Nasrallah mengatakan, "Pemerintahan Trump mencari saluran komunikasi dengan Hizbullah. Sejak saat-saat pertama setelah insiden Kabrshmoun, kami memulai kontak untuk menenangkan situasi. stabilitas di Libanon adalah kepentingan kami," tegasnya. [IT]


 
Artikel Terkait
Comment