0
1
Komentar
Monday 9 September 2019 - 21:22
Militer Arab Saudi:

Arab Saudi, Importir Senjata Top Dunia, Meluncurkan Industri Militer Sendiri

Story Code : 815385
Brazil
Brazil's President Michel Temer, Saudi Arabia's Crown Prince Mohammed bin Salman and US President Donald Trump.jpg
Otoritas Umum untuk Industri Militer (GAMI) pada hari Minggu (8/9) mengumumkan dimulainya penerimaan aplikasi lisensi bagi perusahaan untuk memproduksi senjata api, amunisi, bahan peledak militer, peralatan militer, peralatan militer individu, dan elektronik militer di kerajaan.

Gubernur GAMI Ahmed al-Ohali menggambarkan langkah itu sebagai langkah signifikan menuju menarik investastor domestik dan asing ke sektor ini, Saudi Press Agency (SPA) yang dikelola pemerintah melaporkan.

Penguasa de facto Arab Saudi Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang telah menuai kritik karena mengikuti kebijakan konfrontatif di kawasan itu, telah mengatakan dia ingin kerajaan itu memproduksi atau merakit setengah dari peralatan militernya secara lokal.

Pada bulan Maret 2015 - hanya dua bulan setelah diangkat sebagai menteri pertahanan, pangeran muda itu mengizinkan perang yang dipimpin Saudi melawan Yaman. Riyadh dan sekutunya - termasuk Uni Emirat Arab - telah memicu kemarahan dengan memimpin perang yang telah menewaskan ribuan warga sipil Yaman.

Riyadh menyerbu Yaman dalam upaya untuk mengembalikan rezim sekutu-Saudi dan menghilangkan gerakan Houthi Ansarullah, tetapi gagal mencapai tujuan-tujuan itu.

Pada Januari 2016, Riyadh memutuskan hubungan diplomatik dengan Tehran atas protes kemarahan di Iran menyusul eksekusi ulama Syiah di Arab Saudi.

Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) melaporkan awal tahun ini bahwa Arab Saudi menjadi importir senjata top dunia setelah impor senjata di tahun 2014-2018 meningkat sebesar 192 persen, dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya.

Amerika Serikat berada di urutan teratas dalam daftar pemasok senjata ke kerajaan.

Pada 2017, Presiden AS Donald Trump membuat kesepakatan senjata dengan Arab Saudi senilai hampir $ 110 miliar, dan memperpanjang hingga $ 350 miliar selama 10 tahun.

Selama beberapa dekade, Arab Saudi telah memanfaatkan sumber daya minyaknya yang melimpah untuk menanggung tagihan militernya yang luar biasa, tetapi perang di Yaman dan tempat lain menggerogoti cadangan kas kerajaan.

Pada hari Minggu (8/9), Raja Salman menggantikan menteri energi negara itu, Khalid al-Falih, dengan salah satu putranya, mengangkat Pangeran Abdulaziz bin Salman ke posisi penting.[IT/r]
 
Artikel Terkait
Comment


Indonesia
Negara banci