0
Tuesday 24 September 2019 - 03:28

Negara-Negara Barat Prihatin dengan Catatan Buruk Hak Asasi Saudi

Story Code : 817957
Demo warga Saudi
Demo warga Saudi
Keprihatinan itu diutarakan oleh negara anggota dewan bersamaaan dengan kritikan tajam ke kerajaan yang dibacakan di Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa selama enam bulan, setelah kecaman pertama Arab Saudi di forum pada bulan Maret.

Negara-negara juga mendesak pemerintah Saudi untuk menetapkan kebenaran tentang pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat Istanbul Oktober lalu dan memastikan bahwa para pelaku dimintai pertanggungjawaban.

Lima belas anggota Uni Eropa, termasuk Inggris dan Jerman, termasuk di antara penandatangan, serta Kanada, Selandia Baru, dan Peru, menurut AFP pada Senin, 23/09/19.

Tidak ada tanggapan dari delegasi Saudi, yang merupakan salah satu dari 47 negara anggota dewan. Dalam sidang itu kursi Saudi Arabia kosong. Duta Besar Saudi meninggalkan ruangan sekitar satu jam sebelumnya untuk alasan yang tidak pasti.

Pernyataan yang dibacakan di Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa itu, mengakui adanya reformasi Saudi, termasuk pengumuman bulan lalu bahwa pembatasan hak-hak perempuan untuk bepergian akan dicabut, tetapi muncul kekhawatiran mendalam tetap masih ada.

"Namun, kami tetap sangat prihatin dengan situasi hak asasi manusia di Arab Saudi. Aktor-aktor masyarakat sipil di Arab Saudi masih menghadapi penganiayaan dan intimidasi," kata duta besar Australia Sally Mansfield, saat membacakan pernyataan itu.

"Kami prihatin dengan laporan penyiksaan, penahanan sewenang-wenang, penghilangan paksa, pengadilan yang tidak adil dan pelecehan terhadap individu yang terlibat dalam mempromosikan dan membela hak asasi manusia, keluarga dan kolega mereka," katanya.

Sejauh tahun ini, pemerintah Saudi telah mengeksekusi lebih dari 130 orang.

Arab Saudi secara kontroversial memperluas ruang lingkup apa yang disebutnya hukum anti-terorisme untuk memasukkan penentangan terhadap kebijakan kerajaan di dalam dan luar negeri dan perlakuannya terhadap penduduk muslim Syiah.

Kerajaan, yang didominasi oleh Wahhabisme, sebuah ideologi yang sangat tidak toleran, dituduh melakukan kebijakan yang diskriminatif secara radikal terhadap minoritas muslim Syiah.

Pada Januari 2016, otoritas Saudi mengeksekusi ulama Syiah Sheikh Nimr Baqir al-Nimr, yang merupakan pengkritik keras rezim Riyadh. [IT/Onh]


 
Artikel Terkait
Comment