0
1
Komentar
Wednesday 16 October 2019 - 15:22

Capaian Besar 5 Tahun Jokowi: BBM Satu Harga hingga Freeport

Story Code : 822389
Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melakukan sejumlah terobosan di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM). (Foto: Pool/Kris/Biro Pers Setpres/Detik)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melakukan sejumlah terobosan di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM). (Foto: Pool/Kris/Biro Pers Setpres/Detik)
Demikian disampaikan Menteri ESDM Ignasius Jonan di JS Luwansa, Jakarta Selatan, Senin (14/10/2019).

"Pertama capaian lima tahun itu paling penting sektor ini elektrifikasi. Jadi rasio elektrifikasi itu selama lima tahun dari sekitar 85% sekarang udah ke 98,9%. Jadi kira-kira 14% lebih tambahannya. Memang makin lama makin sulit karena daerahnya terpencil," kata Jonan.

Jonan mengatakan, sampai akhir tahun ditargetkan rasio elektrifikasi mencapai 99%. Kemudian, pada 2020 mencapai 100%.

Jonan melanjutkan, pencapaian terpenting lainnya adalah BBM satu harga. Dia menerangkan, arahan Jokowi dalam tiga tahun terakhir yakni 2017-2019 untuk 160 titik.

"Kami berhasil membangun 170 titik artinya 170 kecamatan, Papua istilahnya distrik lah. Nah 170 kecamatan dan distrik. Pak masih banyak? Betul. Makanya saya usulkan ke Pak Presiden nanti sampai 2020 sampai 2024 dalam lima tahun ke depan harus bangun lagi minimal 330," ujarnya.

"Jadi sampai 500. Kenapa? Kira-kira ada 1.000 kurang lebih, 1.000 kecamatan yang nggak ada SPBU-nya. Hampir 1.000 mungkin 800 sekian," tambahnya.

Capaian selanjutnya ialah bauran energi di mana pemerintah telah menerapkan program biodiesel 20% atau B20. Tahun depan, pemerintah akan meningkatkannya menjadi B30.

Kemudian, capaian yang tak kalah penting adalah pengambilalihan saham PT Freeport Indonesia (PTFI) di mana Indonesia kini pemegang saham mayoritas.

"Kalau yang lain-lain saya kira standar Freeport, saya kira sudah tahu, Masela yang besar-besar lah " tutupnya.

Tagihan Listrik Turun Drastis

Tagihan listrik Jonan berkurang drastis. Biasanya, ia membayar sampai Rp 4 juta per bulan, kini hanya Rp 1,6 juta atau lebih dari separuhnya.

"Di rumah saya tagihannya itu Rp 3,5 juta sampa Rp 4 juta, sebelum pasang. Setelah pasang mungkin tagihannya mungkin Rp 1,6 juta separuhnya kira-kira," kata Jonan.

Jonan mengatakan, tagihan listriknya turun tajam karena ia memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap. Ia memasang dengan kapasitas 15 kWp.

Dengan pembangkit tersebut maka listrik yang tak terpakai bisa 'dijual' ke PT PLN (Persero). Alhasil, tagihan listrik pun berkurang.

"Saya pasang di rumah 15 kWp, banyak rekan saya juga pasang ini yang paling mudah karena PLN sudah mau terima impor ekspor," ujarnya.

Baca juga: Genjot Mobil Listrik, Jonan Minta RI Contoh China Atur Pelat Nomor

"Pasang aja kalau listriknya nggak dipakai jual ke PLN minus dia meterannya, nanti kalau malam kita pakai, kita impor," tambahnya.

Jonan menambahkan, penggunaan pembangkit listrik atap ini bisa balik modal 7-8 tahun.

"Pay back berapa pak? Mungkin 7-8 tahun oke lah, ini kan bisa dipakai 25 tahun, 20-25 tahun," tutupnya. [IT/finance.detik]


 
Artikel Terkait
Comment


Indonesia
Pingin kentut aja baca berita ini.