0
Saturday 26 October 2019 - 15:24

Jutaan Warga Chile Turun ke Jalan

Story Code : 824068
Reuters
Reuters
Seperti dilansir AFP dan Associated Press, Sabtu (26/10/2019), Pinera dalam pesan terbaru via Twitter menyatakan dirinya 'mendengar pesan' dari rakyat. Dia bahkan menanggapi aksi massal itu secara positif dan menyebutnya sebagai sarana menuju perubahan.

Dalam aksinya, para demonstran membawa bendera nasional dan bendera kelompok pribumi sambil menyanyikan lagu perlawanan dari era diktator Augusto Pinochet tahun 1973-1990 lalu. Aksi protes ini tercatat sebagai yang terburuk di negara yang selama ini dipandang sebagai paling stabil di Amerika Latin.

Associated Press melaporkan bahwa kerumunan orang yang ikut aksi massal pada Jumat (25/10) waktu setempat ini, terdiri atas latar belakang beragam mulai dari mahasiswa, pekerja hingga para orangtua dan anak-anak mereka.

"Semua warga Chile ikut aksi ini," ucap Wali Kota Santiago, Karla Rubilar, dalam pernyataannya. Rubilar bahkan menyebutnya sebagai 'hari bersejarah'. "Aksi yang damai... mewakili mimpi Chile yang baru," sebutnya.

Rubilar memperkirakan jumlah orang yang ikut aksi di kawasan central plaza di Santiago itu mencapai 1 juta orang. Namun otoritas kota Santiago mengutip perkiraan kepolisian yang menyebut jumlah orang yang ikut aksi mencapai 820 ribu orang.

Menanggapi aksi tersebut, Pinera menyebutnya sebagai aksi damai. "Aksi yang masif, menyenangkan dan damai hari ini, di mana warga Chile menuntut Chile yang lebih adil dan suportif, terbuka menuju jalur masa depan dan harapan yang besar," tulis Pinera dalam pernyataan via Twitter.

"Kami semua mendengar pesannya. Kami semua telah berubah," tegasnya.

Diketahui bahwa sepekan terakhir, kemarahan warga Chile meluap dan ditumpahkan ke dalam aksi protes melawan struktur sosial-ekonomi yang berlaku di negara tersebut. Struktur semacam itu dirasakan banyak pihak telah mempersulit hidup mereka, dengan upah dan uang pensiun yang rendah, biaya layanan kesehatan dan pendidikan yang mahal, serta besarnya kesenjangan antara warga kaya dan miskin.

Baca juga: Ibu Kota Rusuh, Presiden Chile Umumkan Keadaan Darurat

Unjuk rasa yang awalnya memprotes kenaikan tarif layanan kereta bawah tanah sebesar 4 persen ini meluas menjadi aksi memprotes ketidaksetaraan sosial-ekonomi di negara tersebut. Aksi protes ini diwarnai kerusuhan yang menewaskan sedikitnya 19 orang dan melukai ratusan orang sejak pekan lalu.

Dalam pidato publik pada Selasa (22/10) malam, Pinera meminta maaf atas kegagalan mengantisipasi dampak kerusuhan sosial. Dia juga mengumumkan serentetan langkah untuk menenangkan publik, seperti menaikkan uang pensiun dan upah minimum. Namun hal itu tidak mampu mencegah warga kembali beraksi untuk menuntut pengunduran diri Pinera.

"Kami menuntut keadilan, kejujuran dan pemerintahan yang etis," tegas salah satu demonstran, Francisco Anguitar (38), yang berprofesi sebagai pengembang intelijen buatan (AI). [IT/Detik]


 
Artikel Terkait
Comment