0
Sunday 10 November 2019 - 17:55
AS dan Nuklir Iran:

AS Marah karena Iran Melarang Inspektur IAEA dengan Jejak Nitrat Peledak

Story Code : 826636
Natanz uranium enrichment facility in central Iran.jpg
Natanz uranium enrichment facility in central Iran.jpg
Berbicara pada pertemuan khusus Dewan Gubernur IAEA yang beranggotakan 35 negara IAEA di Wina pada hari Kamis (7/11), Duta Besar Iran Kazem Gharibabadi mengatakan sebuah detektor untuk peledak nitrat berbunyi ketika inspektur berusaha memasuki pabrik pengayaan uranium Natanz pada 28 Oktober.

"Alarm detektor berbunyi dan memberi sinyal kepada orang tertentu," katanya. "Mereka (pihak berwenang) telah mengulangi prosedur ini berulang-ulang, dan sayangnya, hasilnya sama saja hanya untuk inspektur khusus itu."

Gharibabadi mencatat bahwa wanita itu "menyelinap" ke kamar mandi sementara para pejabat mencari karyawan wanita untuk menggeledahnya.

Setelah dia kembali, dia menambahkan, alarm tidak berbunyi lagi, tetapi pihak berwenang menemukan kontaminasi di kamar mandi dan kemudian pada tas tangan kosongnya selama pencarian rumah.

Pejabat Iran juga menyatakan harapan bahwa tes lebih lanjut oleh Iran dan IAEA akan menjelaskan apa yang terjadi.

"Tidak perlu dikatakan bahwa Iran, seperti semua anggota badan lainnya, tidak dapat memaafkan perilaku atau tindakan apa pun yang mungkin bertentangan dengan keselamatan dan keamanan instalasi nuklirnya, terutama ... mengingat upaya sabotase masa lalu di fasilitas nuklirnya," katanya. kata.

Insiden itu memicu kemarahan Amerika Serikat, dengan Menlu AS Mike Pompeo mengklaim bahwa inspektur itu telah "ditahan" dalam "tindakan intimidasi yang keterlaluan dan tidak beralasan."

"Inspektur IAEA harus diizinkan untuk melakukan pekerjaan kritis mereka tanpa hambatan," katanya dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat. "Kami menyerukan Iran untuk segera menyelesaikan semua masalah terbuka dengan IAEA dan untuk memberikan hak dan kekebalan kepada lembaga pemeriksa yang menjadi hak mereka."

Industri nuklir Iran telah menjadi sasaran sabotase dan para ilmuwannya dibunuh di masa lalu.

Pada 2010, Stuxnet, sebuah senjata dunia maya yang diyakini banyak dibuat oleh AS dan Zionis Israel, menghantam sebuah fasilitas pengayaan uranium di Natanz, dalam contoh pertama yang diketahui secara publik tentang virus yang digunakan untuk menyerang mesin-mesin industri.

Tehran kemudian mengembangkan firewall asli yang mengamankan fasilitas industri sensitifnya terhadap Stuxnet.[IT/r]
 
Artikel Terkait
Comment