0
Saturday 7 December 2019 - 12:33
Nuklir Israel:

Ancam Iran, Israel Uji Coba Sistem Rudal Berkemampuan Nuklir

Story Code : 831248
Israel’s nuclear-capable Jericho II missile carrying the Shavit rocket.jpg
Israel’s nuclear-capable Jericho II missile carrying the Shavit rocket.jpg
Tes tersebut dilakukan di Palmachim Airbase di selatan Tel Aviv pada hari Jumat (6/12), demikian saluran televisi Israel i24 News melaporkan.
.
“Militer melakukan uji peluncuran beberapa menit yang lalu dari sistem motor roket," kata Kementerian Urusan Militer Israel dalam sebuah pernyataan, kata saluran itu. "Tes dijadwalkan sebelumnya dan dilaksanakan sesuai rencana," pernyataan itu menambahkan.

Sistem yang terlibat, tambahnya, dapat digunakan untuk membawa rudal pencegat, seperti Arrow 3, "atau menyerang rudal seperti Jericho 3, yang dikatakan memiliki jangkauan 2.000 kilometer, yang mampu membawa hulu ledak nuklir."

Rekaman yang ditayangkan oleh i24 menunjukkan jejak putih menembaki langit di atas wilayah Tel Aviv yang lebih besar setelah tes tersebut, di mana, kata saluran itu, warga belum "diperingatkan sebelumnya." Tes yang dilaporkan juga mengganggu pola normal lepas landas dan mendarat di bandara Ben Gurion.

Koresponden televisi Jonathan Regev mengatakan sistem propulsi itu dapat membawa proyektil ke ketinggian bahkan di atas atmosfer.

Israel adalah satu-satunya pemilik senjata nuklir di Timur Tengah, tetapi kebijakannya adalah untuk tidak mengkonfirmasi atau menyangkal memiliki senjata atom. Namun, mantan presiden AS Jimmy Carter dan berbagai surat kabar dan laporan media terkemuka telah memverifikasi kepemilikan rezim atas senjata-senjata non-konvensional. Perkiraan menunjukkan bahwa rezim saat ini memiliki 200 hingga 400 hulu ledak atom.

Rezim itu juga diyakini memiliki kemampuan untuk mengirimkan hulu ledak nuklirnya dengan sejumlah metode, termasuk dengan pesawat terbang, dengan rudal jelajah yang diluncurkan kapal selam, dan seri rudal balistik jarak menengah hingga antar Jericho.

Amerika Serikat, sekutu Zionis Israel yang paling berdedikasi dan terbesar, selalu melakukan veto terhadap langkah-langkah PBB yang berusaha meminta rezim untuk mempertanggungjawabkan berbagai tindakan seriusnya, termasuk penolakannya untuk bergabung dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.

Pada bulan November, Washington dan Tel Aviv menghindari Konferensi tentang Pembentukan Zona Timur Tengah yang Bebas dari Senjata Nuklir dan Senjata Senjata Pemusnah Massal Lainnya di sesi pertama di Markas Besar PBB di New York.

Berbicara di konferensi itu, utusan Iran untuk PBB, Majid Takht-e Ravanchi, menyebut keduanya sebagai hambatan utama untuk membersihkan wilayah dari senjata nuklir. "Kebijakan dan tindakan mereka yang tidak bertanggung jawab untuk memperbanyak WMD seharusnya tidak diterima masyarakat internasional," tambahnya.[IT/r]
 
Artikel Terkait
Comment