0
Saturday 18 January 2020 - 11:05
Gejolak Politik AS:

New York Times: Pembunuhan Jenderal Soleimani oleh AS adalah 'Tindakan Tidak Bermoral'

Story Code : 839125
Demonstrators in Lahore, Pakistan, anti-US protest over the assassination of Leutenant General Qassem Soleimani.jpg
Demonstrators in Lahore, Pakistan, anti-US protest over the assassination of Leutenant General Qassem Soleimani.jpg
"Pemerintah baru-baru ini mengumumkan bahwa, atas perintah presiden, Amerika Serikat telah 'mengambil' (yang benar-benar berarti 'dibunuh') seorang pemimpin militer penting dari sebuah negara di mana kita tidak berperang," kata artikel Times, yang ditulis oleh Benjamin Ferencz, seorang pengacara Amerika kelahiran Hungaria.

"Sebagai lulusan Harvard Law School yang telah menulis secara luas tentang subjek ini, saya melihat tindakan tidak bermoral tersebut sebagai pelanggaran yang jelas terhadap hukum nasional dan internasional," tulis Ferencz dalam op-ed-nya.

“Masyarakat berhak mengetahui kebenaran. Piagam PBB, Mahkamah Pidana Internasional dan Mahkamah Internasional di Den Haag semuanya dilewati. Di dunia maya ini, orang-orang muda di mana saja berada dalam bahaya besar kecuali kita mengubah hati dan pikiran orang-orang yang tampaknya lebih suka perang daripada hukum,” tambahnya.

Ferencz, 99, mengatakan dia "tidak bisa tinggal diam" lagi atas kejahatan perang AS.

Ferencz adalah penyidik ​​kejahatan perang Nazi setelah Perang Dunia II dan ketua jaksa untuk Angkatan Darat AS di Pengadilan Einsatzgruppen, salah satu dari 12 persidangan militer yang diadakan oleh otoritas AS di Nuremberg, Jerman.

Ferencz lahir pada tahun 1920 di Transylvania, yang merupakan bagian dari Hongaria, tetapi diduduki oleh Rumania pada saat itu. Dia berusia sepuluh bulan ketika dia beremigrasi ke AS dengan keluarga Yahudi-nya.

“Sekarang di tahun keseratus saya, saya tidak bisa tinggal diam. Saya memasuki Amerika Serikat pada Januari 1921 sebagai anak imigran yang miskin, dan saya merasa berkewajiban untuk membayar Amerika Serikat atas kesempatan yang diberikan kepada saya,” tulis Ferencz dalam artikel Times.

Ketegangan antara AS dan Iran telah meroket dalam beberapa pekan terakhir setelah militer AS melakukan serangan udara atas perintah Trump di bandara internasional Baghdad 3 Januari, membunuh Jenderal Qassem Soleimani dan komandan kedua Mobilisasi Populer Irak (PMU) , Abu Mahdi al-Muhandis, serta delapan sahabat lainnya.

Iran merespons dengan meluncurkan rudal di pangkalan militer Irak yang menampung pasukan AS.

Para pejabat AS telah membuat pernyataan membingungkan tentang apa yang mendorong Trump untuk memerintahkan pembunuhan itu.[IT/r]
 
 
Artikel Terkait
Comment