0
Sunday 2 August 2020 - 06:53

Membuang Dolar: Pilihan Moskow Meninggalkan Dolar dan Bertaruh pada Emas Tepat

Story Code : 877829
Membuang Dolar: Pilihan Moskow Meninggalkan Dolar dan Bertaruh pada Emas Tepat
Dilansir Russia Today pada hari Jumat, pilihan Rusia untuk tidak lagi menyimpan dolar sebagai mata uang cadangan dan secara bertahap menggantikan dolar dalam perdagangan itu dibarengi dengan kesenangan membeli emas tanpa henti. Langkah itu merupakan reaksi terhadap sanksi AS, sebuah alat utama perang ekonomi yang kerap dipakai negara Paman Sam.

Pada hari Kamis, satu ons logam mulia diperdagangkan maksimal $2.005,4 di US COMEX Commodity Exchange. Pertumbuhan popularitas emas secara langsung terkait dengan ketidakpastian ekonomi global karena pandemi Covid-19, secara emas dipandang sebagai perlindungan terhadap inflasi ketika pencetak uang cadangan federal AS bekerja lembur.

Harga emas kemungkinan masih akan naik, dengan analis Goldman Sachs memperkirakan kenaikan hingga $2.300 dalam 12 bulan.

Peningkatan nilai emas menjadi kemenangan besar bagi kebijakan Moskow yang memindahkan sejumlah besar uang dari mata uang fiat (uang yang nilainya berasal dari regulasi atau hukum pemerintah) dan menuju komoditas.

Dalam lima tahun terakhir, Rusia telah menghabiskan lebih dari $40 milyar untuk membangun tumpukan besar emas, melindungi keuangan negara dari volatilitas mata uang.

"Amerika menggunakan dolar AS sebagai senjata, dan Rusia sangat benar dalam mendiversifikasi cadangan devisanya," kata John Mayer, mitra perusahaan investasi dan konsultan SP Angel. "Emas adalah investasi likuid terbaik jika Anda tidak ingin disandera oleh dolar."

Pada bulan September 2014, kepemilikan emas Rusia hanya 10 persen dari seluruh cadangan devisa negara itu - sekarang proporsinya mencapai 23 persen, dengan 2.299,9 metrik ton.

Pada bulan Maret, bank sentral Rusia mengumumkan akan berhenti membeli emas. Pengumuman ini membuat beberapa analis percaya bahwa operasi penambangan Rusia akan mulai menjual emas di luar negeri sementara harganya masih tinggi. Prediksi itu ternyata benar, karena kuartal kedua tahun 2020 menyaksikan nilai penjualan emas untuk pembeli asing mampu menyalip ekspor gas untuk pertama kalinya, setidaknya sejak tahun 1994.[IT/AR]
Artikel Terkait
Comment