0
Saturday 5 December 2020 - 17:33
Saudi Arabia dan Gejolak Timur Tengah:

Arab Saudi dan Qatar Mendekati Kesepakatan yang Dimediasi AS untuk Mengakhiri Kebuntuan

Story Code : 901825
Border Saudi Arabia and Qatar.jpg
Border Saudi Arabia and Qatar.jpg
Arab Saudi dan Qatar diperkirakan akan mencapai kesepakatan atas perselisihan yang telah memutuskan hubungan diplomatik dan ekonomi antara kedua negara dan antara Qatar dan tetangga Teluk lainnya setelah pembicaraan rekonsiliasi yang dipimpin AS minggu ini, tiga orang yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Bloomberg.
 
Namun, kesepakatan tentatif tersebut tidak memasukkan tiga negara lain yang terlibat sengketa, yakni UEA, Mesir, dan Bahrain.
 
Potensi rekonsiliasi telah ditengahi oleh Kuwait dan AS, dengan menantu Presiden AS Donald Trump dan utusan Timur Tengah Jared Kusher melakukan perjalanan awal pekan ini ke Timur Tengah untuk bertemu dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Qatar.
 
Emir Tamim Bin Hamad al-Thani membantu menengahi kesepakatan antara kedua negara. Menteri Luar Negeri Kuwait Sheikh Ahmad Nasser al-Sabah mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di TV Kuwait Jumat bahwa kemajuan telah dibuat antara Qatar dan Arab Saudi.
 
"Diskusi yang bermanfaat telah terjadi baru-baru ini di mana semua pihak menyatakan keinginan mereka ... untuk mencapai kesepakatan akhir," kata Sabah, berterima kasih kepada Kushner atas "upayanya baru-baru ini," lapor Reuters.
 
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud juga menyambut baik "kemajuan" dalam pembicaraan Qatar dan mengatakan "kesepakatan akhir" tampaknya akan segera terjadi, Associated Press melaporkan.
 
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman al-Thani mengatakan Arab Saudi dan Qatar telah mengambil "langkah penting untuk menyelesaikan krisis Teluk," lapor Axios. "Kepentingan dan keamanan rakyat Teluk dan kawasan itu tetap menjadi prioritas utama kami," tambahnya.
 
Menurut Bloomberg, yang mengutip dua orang dengan pengetahuan orang dalam, kesepakatan itu kemungkinan akan melibatkan pembukaan kembali perbatasan darat dan ruang udara.
 
Pemerintahan Trump telah mendesak Saudi untuk membuat kesepakatan dengan Qatar sebagai kemenangan diplomatik terakhir sebelum Trump meninggalkan jabatannya, serta mendorong Riyadh untuk menormalisasi hubungan dengan Zionis Isael, Axios melaporkan.
 
Selain itu, seorang mantan pejabat AS mengatakan kepada outlet tersebut bahwa Arab Saudi berpikir akan menguntungkan wilayah kaya minyak itu untuk mengakhiri krisis dengan Qatar.
 
Arab Saudi dan UEA adalah aktor utama di balik boikot 2017, yang mengganggu perdagangan dan bisnis di wilayah tersebut.
 
Boikot itu terdiri dari kedua negara, bersama dengan Bahrain dan Mesir, memutuskan hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Qatar dan melarang pesawat dan kapal yang terdaftar di Qatar menggunakan wilayah udara dan laut mereka.
 
Alasan koalisi pimpinan Saudi untuk boikot itu adalah dugaan dukungan Qatar untuk terorisme dan pendanaan kelompok ekstremis.
 
Sementara Qatar telah mengakui mendukung beberapa kelompok Islam seperti Ikhwanul Muslimin, mereka membantah klaim bahwa mereka membantu kelompok militan yang terkait dengan Daesh.
 
Selain itu, Qatar tidak menyetujui tuntutan koalisi yang dipimpin Saudi pada saat itu, yang terdiri dari memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, menghentikan koordinasi militer dengan Turki dan menutup Al Jazira, saluran berita milik negara Qatar yang juga telah telah dikritik oleh koalisi pimpinan Saudi.
 
Arab Saudi pada 2017 melarang Al Jazira dari negara itu karena mengkritik rezimnya.
 
UEA lebih ragu untuk meningkatkan hubungan dengan Qatar dan malah berfokus pada membangun hubungan dengan Zionis Israel sambil berusaha menghindari konfrontasi dengan Iran.[IT/r]
 
Artikel Terkait
Comment